Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami melintas. Kemudian masuk ke jalur lintas luar yang sebagian badan jalannya sudah ditutupi oleh jenis tumbuhan dan tanaman liar. "Kita sudah sampai, mas," pungkas saya mengakhiri obrolan dengan Agus. Kami pun menyiapkan peralatan setelah memarkirkan kendaraan. Ternyata, Agus pernah ke sini pada waktu covid melanda. Namun, pada waktu itu, mereka tidak masuk sampai ke dalam sana.
Tak jauh dari jalan masuk yang jaraknya +10 meter, Agus menemukan seekor Banded Wolf Snake (Lycodon subcinctus) yang berukuran kecil dan sedang menunggu mangsanya. Saya pun mendekat. Sebab, baru pertama kali melihatnya. Mengambil beberapa gambar untuk diabadikan. Jo sendiri enggan mengeluarkan kameranya karena itu bukan target spesiesnya. "Dia biasa begitu, Fin. Tidak mau ambil foto kalau itu bukan target spesiesnya dia." Timpal Agus setelah Jo hanya melihat ular itu sekejap lalu berpindah tempat. Saya pun menginformasikan bahwa sekitar jarak 2 meter dari ular itu, saya dan Niels (tamu herping sebelumnya) menemukan si kuning sebulan yang lalu. Tak butuh waktu, kami pun langsung mencari di sekitar area itu. Namun, hasilnya nihil.
![]() |
| Foto: Banded Wolf Snake (Lycodon subcinctus) |
Permukaan batu yang cukup licin di lokasi herping membuat kami berempat mesti berhati-hati ketika melangkah. Salah sedikit bisa terpeleset dan mengakibatkan luka yang cukup parah. Kami terus masuk sampai ke dalam hingga akhirnya Jo melihat seekor ular hijau Trimeresurus insularis yang sedang menunggu mangsanya di dahan pohon. Juga seekor Whip spider di sebuah batu. Dinding batu seperti karang yang terangkat dari permukaan laut menyisakan lubang-lubang kecil di sepanjang sungai. Sebagiannya dihiasi oleh akar pohon yang tumbuh menjulang tinggi. Menurut Jo & Agus, ini merupakan habitat yang sangat cocok bagi ular Pyton dikala musim hujan tiba. Kami berempat pun mengikuti sungai yang tidak lagi menyisakan genangan-genangan air. Setelah sudah cukup jauh, kami memutuskan kembali ke titik awal - tempat kami memulai kegiatan herping.
Dentuman musik dari rumah warga yang berada di sekitar lokasi seakan mengajak kami untuk bergoyang. Beberapa anak remaja yang mengendarai motor terlihat melintas dengan tawa yang menggelegar. Setiap pagi sampe sore, jalur ini ramai dilewati oleh kendaraan roda dua. Kadang-kadang juga roda empat. Tetapi di malam hari, hanya beberapa kendaraan saja yang melintas. Mungkin karena kondisi jalannya yang menyeramkan. Sampah yang berserakan di mana-mana pun tak luput dari penglihatan. Ada yang terbawa air hujan dan ada juga yang memang sengaja dibuang. Agus pun memastikan bahwa ular itu tak mungkin pergi jauh dari titik di mana saya menemukannya sebelum. Sebab, ular itu akan berusaha mencari sumber air terdekat.
Dingin mulai menjemput. Merambat masuk ke pori-pori kulit. Agus menyusuri bagian kiri dan saya di bagian kanan sungai. Sementara Jo dan pacarnya menyusuri bagian tengah. Sekitar 15 meter dari deker yang adalah jalan masuk, Jo memanggil saya dan Agus. Ia berhasil menemukan si kuning yang baru saja keluar dari sebuah lubang pohon untuk mencari makan. Ukurannya cukup besar. Jo langsung mengambil kamera dan mulai mengambil foto. Ekspresi senang dan bahagia yang tak bisa Jo sembunyikan terpancar di wajahnya. Setidaknya target spesies yang diimpikan akhirnya berhasil ditemukan.
Untuk diketahui, Trimeresurus insularis adalah predator nokturnal yang sangat efisien. Tikus, burung kecil, katak, dan kadal merupakan makanan utamanya. Habitat alaminya mencakup hutan hujan tropis, daerah pegunungan, dan semak-semak lebat di pulau-pulau kecil di Indonesia, seperti Flores dan Komodo. Di siang hari, mereka biasanya beristirahat di cabang-cabang pohon atau semak-semak yang tebal dan menyatu dengan lingkungan sekitar untuk menghindari predator. Dan, aktif serta mulai berburu mangsa pada malam hari. Sensor panas yang terdapat di lubang-lubang kecil di dekat hidungnya berfungsi untuk mendeteksi mangsa. Teknik berburunya yaitu dengan cara menunggu dan mengintai mangsa yang akan mendekat.
Malam semakin larut. Dingin semakin terasa. Jarum jam terus berputar dan tak terasa kami sudah menghabiskan waktu selama tiga setengah jam di lokasi herping. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Sebab di hari esok, mereka bertiga masih harus melanjutkan kegiatan yang sama di kawasan Taman Nasional Komodo selama 3 hari 2 malam. Ada target spesies lainnya yang Jo ingin lihat di sana. Setelah mengantar mereka berdua ke hotel, saya dan Agus menuju ke Roxi mart. Membeli dua kaleng bir dingin. Kami berdua meneguknya sembari menceritakan kegiatan yang baru saja usai di bawah gemerlap cahaya lampu di samping hotel Meruorah. Pun cahaya lampu kapal yang parkir di dekat situ.
Saya dan Agus punya ketakutan yang sama akan keberadaan ular kuning di lokasi itu dan tidak menjamin keselamatannya. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul begitu saja; baik yang terucap maupun tidak terucap hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa keselamatan si kuning bergantung pada manusia yang berada di sekitar maupun kendaraan yang melintas di lokasi itu. Bisa saja ular itu akan mati digilas oleh kendaraan yang melintas atau dibunuh karena dianggap berbahaya. Namun, itu hanyalah sebuah ketakutan yang mungkin saja terpengaruh karena bir yang kami teguk.
Catatan:
- Mas (sapaan akrab yang biasa saya gunakan untuk Agus Elang)
Visit our official website https://floresnaturetour.com for more information.
We are ready to assist you and customize your itinerary that suits to your needs.

.jpg)
Comments