Skip to main content

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Demi Si Kuning Trimeresurus Insularis


Foto: Yellow Trimeresurus insularis (James Adam)

Suara tokek dan Celepuk Maluku mengiringi kegiatan herping kami pada malam itu. Kami masuk melalui sebuah jalan kecil yang biasa dilewati oleh orang-orang yang keluar masuk hutan sebagai jalan masuk. Cahaya senter yang digunakan seperti cahaya lampu-lampu di kelab malam. Bergerak ke sana ke mari menerangi setiap sisi. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Seminggu sebelumnya, Agus menelpon saya. Meminta kesediaan saya untuk menemani beliau bersama kedua orang tamu - Jo dan pacarnya - untuk herping. Jo sendiri pernah ke Labuan Bajo bersama rekan-rekannya untuk kegiatan yang sama tahun 2018 silam dan ditemani oleh Agus. Dan, ini adalah kunjungan keduanya Jo. Tetapi kali ini, target utamanya adalah si kuning Trimeresurus insularis

Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami melintas. Kemudian masuk ke jalur lintas luar yang sebagian badan jalannya sudah ditutupi oleh jenis tumbuhan dan tanaman liar. "Kita sudah sampai, mas," pungkas saya mengakhiri obrolan dengan Agus. Kami pun menyiapkan peralatan setelah memarkirkan kendaraan. Ternyata, Agus pernah ke sini pada waktu covid melanda. Namun, pada waktu itu, mereka tidak masuk sampai ke dalam sana. 

Tak jauh dari jalan masuk yang jaraknya +10 meter, Agus menemukan seekor Banded Wolf Snake (Lycodon subcinctus) yang berukuran kecil dan sedang menunggu mangsanya. Saya pun mendekat. Sebab, baru pertama kali melihatnya. Mengambil beberapa gambar untuk diabadikan. Jo sendiri enggan mengeluarkan kameranya karena itu bukan target spesiesnya. "Dia biasa begitu, Fin. Tidak mau ambil foto kalau itu bukan target spesiesnya dia." Timpal Agus setelah Jo hanya melihat ular itu sekejap lalu berpindah tempat. Saya pun menginformasikan bahwa sekitar jarak 2 meter dari ular itu, saya dan Niels (tamu herping sebelumnya) menemukan si kuning sebulan yang lalu. Tak butuh waktu, kami pun langsung mencari di sekitar area itu. Namun, hasilnya nihil.

Foto: Banded Wolf Snake (Lycodon subcinctus)

Permukaan batu yang cukup licin di lokasi herping membuat kami berempat mesti berhati-hati ketika melangkah. Salah sedikit bisa terpeleset dan mengakibatkan luka yang cukup parah. Kami terus masuk sampai ke dalam hingga akhirnya Jo melihat seekor ular hijau Trimeresurus insularis yang sedang menunggu mangsanya di dahan pohon. Juga seekor Whip spider di sebuah batu. Dinding batu seperti karang yang terangkat dari permukaan laut menyisakan lubang-lubang kecil di sepanjang sungai. Sebagiannya dihiasi oleh akar pohon yang tumbuh menjulang tinggi. Menurut Jo & Agus, ini merupakan habitat yang sangat cocok bagi ular Pyton dikala musim hujan tiba. Kami berempat pun mengikuti sungai yang tidak lagi menyisakan genangan-genangan air. Setelah sudah cukup jauh, kami memutuskan kembali ke titik awal - tempat kami memulai kegiatan herping.

Dentuman musik dari rumah warga yang berada di sekitar lokasi seakan mengajak kami untuk bergoyang. Beberapa anak remaja yang mengendarai motor terlihat melintas dengan tawa yang menggelegar. Setiap pagi sampe sore, jalur ini ramai dilewati oleh kendaraan roda dua. Kadang-kadang juga roda empat. Tetapi di malam hari, hanya beberapa kendaraan saja yang melintas. Mungkin karena kondisi jalannya yang menyeramkan. Sampah yang berserakan di mana-mana pun tak luput dari penglihatan. Ada yang terbawa air hujan dan ada juga yang memang sengaja dibuang. Agus pun memastikan bahwa ular itu tak mungkin pergi jauh dari titik di mana saya menemukannya sebelum. Sebab, ular itu akan berusaha mencari sumber air terdekat.

Dingin mulai menjemput. Merambat masuk ke pori-pori kulit. Agus menyusuri bagian kiri dan saya di bagian kanan sungai. Sementara Jo dan pacarnya menyusuri bagian tengah. Sekitar 15 meter dari deker yang adalah jalan masuk, Jo memanggil saya dan Agus. Ia berhasil menemukan si kuning yang  baru saja keluar dari sebuah lubang pohon untuk mencari makan. Ukurannya cukup besar.  Jo langsung mengambil kamera dan mulai mengambil foto. Ekspresi senang dan bahagia yang tak bisa Jo sembunyikan terpancar di wajahnya. Setidaknya target spesies yang diimpikan akhirnya berhasil ditemukan.

Untuk diketahui, Trimeresurus insularis adalah predator nokturnal yang sangat efisien. Tikus, burung kecil, katak, dan kadal merupakan makanan utamanya. Habitat alaminya mencakup hutan hujan tropis, daerah pegunungan, dan semak-semak lebat di pulau-pulau kecil di Indonesia, seperti Flores dan Komodo. Di siang hari, mereka biasanya beristirahat di cabang-cabang pohon atau semak-semak yang tebal dan menyatu dengan lingkungan sekitar untuk menghindari predator. Dan, aktif serta mulai berburu mangsa pada malam hari. Sensor panas yang terdapat di lubang-lubang kecil di dekat hidungnya berfungsi untuk mendeteksi mangsa. Teknik berburunya yaitu dengan cara menunggu dan mengintai mangsa yang akan mendekat. 

Malam semakin larut. Dingin semakin terasa. Jarum jam terus berputar dan tak terasa kami sudah menghabiskan waktu selama tiga setengah jam di lokasi herping. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Sebab di hari esok, mereka bertiga masih harus melanjutkan kegiatan yang sama di kawasan Taman Nasional Komodo selama 3 hari 2 malam. Ada target spesies lainnya yang Jo ingin lihat di sana. Setelah mengantar mereka berdua ke hotel, saya dan Agus menuju ke Roxi mart. Membeli dua kaleng bir dingin. Kami berdua meneguknya sembari menceritakan kegiatan yang baru saja usai di bawah gemerlap cahaya lampu di samping hotel Meruorah. Pun cahaya lampu kapal yang parkir di dekat situ. 

Saya dan Agus punya ketakutan yang sama akan keberadaan ular kuning di lokasi itu dan tidak menjamin keselamatannya. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul begitu saja; baik yang terucap maupun tidak terucap hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa keselamatan si kuning bergantung pada manusia yang berada di sekitar maupun kendaraan yang melintas di lokasi itu. Bisa saja ular itu akan mati digilas oleh kendaraan yang melintas atau dibunuh karena dianggap berbahaya. Namun, itu hanyalah sebuah ketakutan yang mungkin saja terpengaruh karena bir yang kami teguk. 


Catatan: 

- Mas (sapaan akrab yang biasa saya gunakan untuk Agus Elang)


Visit our official website https://floresnaturetour.com for more information.

Explore and discover Komodo National Park and Flores with us and we will take you to the nature and its biodiversity.

We are ready to assist you and customize your itinerary that suits to your needs.




Comments

Popular posts from this blog

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Komodo Herping & Birding Report

Photo: Blue Lesser Sunda White-lipped Pitviper  Overview   Komodo National Park is not only popular because of Komodo Dragon as the only one living lizard in the world. Beside that, the island has at least 14 spesies of snakes which can be seen on Rinca, Padar and Komodo island and also more than 100 spesies of birds included Yellow-creasted Cockatoo and Flores Hawk Eagle which is categorised as critical endemic. Here is my trip report inSeptember, 09-11th 2024 during my herping and birding trip. Day 01: September 09th 2024 The weather was quite nice after the rain in the days before in Labuan Bajo. Unusually, there were only a few people in front of the arrival gate and a few airport officials in full uniform. On the screen, the flight route from Denpasar to Labuan Bajo was still on schedule before a melodious voice informed me that flight number 6331 had landed.  In front of the gate of Komodo Airport I waited for Alex & Sheilla - the guest who will be accompanied b...