![]() |
| Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. |
Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.
Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul ketika saya melihat plang-plang putih di lahan yang sudah dipagari dengan rapi. Lengkap dengan nama pemilik dan luas lahan yang dimiliki. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul seketika seperti ombak yang bergulung-gulung.
Deru mesin perahu berukuran panjang 6m dan lebar 1m milik Herman melaju kencang. Membelah laut. Meninggalkan ujung barat pulau Flores. Menuju hunian sang naga Komodo. Pria dengan kulit hitam dan berotot yang bekerja sebagai nelayan itu menatap tajam ke arah depan. Memastikan tak ada rintangan yang menghadang. Tak ada arus yang mesti menantang keahliannya dalam menahkodai perahu kecil yang kami tumpangi.
Di pulau Rinca - Taman Nasional Komodo, ada 2 perkampungan yaitu kampung Rinca dan kampung Kerora. Ada 74 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sebanyak 275 orang yang mendiami kampung kecil di sisi selatan pulau itu. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Tujuan kami ke kampung Kerora adalah melakukan inspeksi jalur trek menuju ke Loh Buaya. Jalur trek ini dulunya seringkali dilalui oleh teman-teman pemandu lokal yang bekerja di sana ketika hendak pulang atau ketika jdwal rolling tiba. Tetapi semenjak adanya perahu ketinting, jalur trek ini mulai ditinggalkan dan hanya sesekali dilewati.
Barisan pohon kelapa di tepi pantai melambai-lambai. Cahaya mentari memantul dari atap-atap rumah panggung. Herman mengurangi kecepatan perahunya ketika kami hendak tiba di pos jaga untuk melapor diri. Kami berlima disambut baik oleh petugas setibanya di sana. Setelah penjelasan singkat tentang peraturan yang harus dipatuhi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Toro Sombang yang akan menjadi titik awal perjalanan kami menjejaki jalur trek dari Kerora menuju ke Loh Buaya. Nas dan Kian yang adalah warga lokal juga Ahmadi yang merupakan petugas dari Taman Nasional Komodo pun ikut menemani kami berlima dalam kegiatan inspeksi jalur trek ini.
Waktu menunjukkan pukul 10.20 wita ketika kami mulai menapaki jalur trek. Rimbunan pepohonan di sepanjang jalur ini seperti payung dikala hujan. Sesekali cahaya mentari mengintip dari celah-celah dedaunan. Berusaha mencari siapa saja yang berusaha berlindung dari sengatan sinarnya. Beberapa tumbuhan liar setinggi pinggang pun mesti kami bersihkan. Berjalan mengikuti pipa air menuju ke Wae Dese yang merupakan sumber air bagi sebagian masyarakat untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Kemudian mengikuti sungai kecil yang dialiri air dikala musim hujan tiba. Ada beberapa kubangan dan jejak kerbau liar pun kotorannya di sepanjang jalur yang kami lewati. Agus menjepret kameranya. Mengambil beberapa gambar. Setibanya di bak penampung di Wae Dese, kami memutuskan untuk beristirahat. Kami tiba di sana pukul 10.50 wita.
Matahari berada tepat di atas kepala ketika kami melintas di sebuah bukit yang berdekatan dengan Golo Kode. Berjalan di punggungnya yang kelihatan seperti tapal kuda. Keringat mengucur deras seperti seseorang yang kehujanan dengan napas tersengal-sengal seperti baru saja mengikuti lomba lari. Kami berusaha melangkah maju dengan tenaga yang masih tersisa untuk sampai di titik pemberhentian yang kedua. Pemandangan ke sisi selatan dengan ketinggian 122 mdpl seperti obat penawar rindu. Hembusan anginnya membuat seseorang bisa jatuh terlelap. Pun pemandangan ke sisi utaranya yang tak kalah menarik dengan pohon-pohon lontar yang menjulang tinggi di antara belantara padang savana. Sedangkan lekukan bukit-bukit kecil menghiasi sisi barat dan timur. Rasa lapar mulai terpancar di wajah kami masing-masing. Kami memutuskan untuk menikmati santap siang di tempat yang sedikit datar.
Di bawah pohon rindang yang terasa lindap membuat mata sayup-sayup ingin beranjak tidur walau hanya sebentar. Namun, kami berusaha menahannya untuk melanjutkan kembali perjalanan yang masih tersisa. Bongkahan batu dari yang berukuran kecil sampai besar juga warna tanah yang kemerah-merahan adalah bukti nyata bahwa pulau ini terbentuk dari aktivitas vulkanik yang telah meletus jutaan tahun lalu. Jalur trek dari bukit menuju ke Wae Waso tidak begitu menantang adrenalin seperti trek adventure yang ada di pulau Komodo. Wae waso merupakan area hunting spot bagi Komodo. Dikala matahari sedang berada di puncaknya, kerbau-kerbau liar akan berendam di tempat ini pun sehabis mereka merumput. Kami tiba di sana pukul 13.12 wita dan memutuskan untuk berpose bersama sebelum melanjutkan perjalanan.
Sebuah tengkorak kerbau dan monyet yang sudah usang menghiasi pohon beringin (Ficus benjamina). Tak ada tanda-tanda komodo di sekitar area ini. Entah untuk berburu atau hanya sekedar melintas. Pun kerbau liar yang datang berendam di kubangan. Mungkin saja waktu dan momennya yang belum pas. Kami menjumpai seekor komodo yang berukuran sedang ketika sudah mendekati pos. Jalannya terburu-buru sambil mencium sesuatu dengan lidahnya yang menjulur keluar. Kami akhirnya tiba di sana pada pukul 14.10 wita dengan total jarak tempuh 6,38 km. Menyeruput segelas kopi. Mengucapkan terima kasih kepada Nas, Kian, dan Ahmadi yang sudah ikut menemani petualangan alam liar ini. Rinus dan Gusto akan menghabiskan waktu sehari lagi di Loh Buaya untuk kegiatan bersih jalur trek yang baru. Sedangkan Kami bertiga (Agus, Sean dan saya) akan balik ke Labuan Bajo menggunakan perahu nelayan dari kampung Warloka. Kembali kepada mimpi yang perlahan-lahan mulai kelihatan jelas.

Comments