Skip to main content

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Menyusuri Keindahan Alam Eksotis Di Londang

Area persawahan yang ada di Londang.
Foto: area persawahan di Londang. 


Pagi itu sinar matahari yang mengintip dari celah daun-daun pohon ampupu (Eucalyptus urophylla) ingin memberitahu kami bahwa cuaca akan bersahabat. Sementara di sisi selatan wae Reno, awan mulai menampakkan diri di gunung Ranaka. Mobil yang kami tumpangi mulai mengurangi laju kecepatannya dan perlahan menepi di dekat Wae Reno. Selain sebagai lokasi untuk memulai kegiatan trekking, Wae Reno juga merupakan salah satu tempat penambang pasir yang terletak di perbatasan antara Kab. Manggarai dan Manggarai Timur, tepatnya di Desa Ranaka, Kab. Manggarai - NTT.

Sebelum memulai kegiatan, Filan selaku ketua koordinator lapangan (Korlap) dalam kegiatan itu memberikan arahan sekaligus memastikan perlengkapan yang sudah dijelaskan sehari sebelumnya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai pemandu wisata. Kami semua berjumlah kurang lebih 25 orang; 15 orang peserta kegiatan, 2 orang pegawai dari Dinas Pariwisata, dan sisanya pemandu wisata dari HPI Cabang Manggarai. Kami dibagi ke dalam lima (5) kelompok. Setiap kelompok terdiri dari lima (5) orang peserta dan tiap-tiap kelompok akan ditemani oleh satu orang pemandu. Pesertanya tidak hanya kaum adam, tetapi juga kamu hawa yang diutus dari desa mereka masing-masing. Setelah semuanya selesai, kami mengikuti arahan dari pemandu untuk menuju ke Londang, Desa Longko, Kec. Wae Ri'i.  

Waktu menunjukkan pukul 09.09 wita dan kami pun memulai perjalanan dengan menyusuri jalan tani yang berjarak 100 meter dari jalan umum. Setelah 5 menit perjalanan, kami memasuki area persawahan milik masyarakat setempat untuk mengambil foto bersama. Beberapa para petani yang sedang berada di ladang menyapa kami yang melintasi jalan itu. Kebiasaan untuk saling bertegur sapa yang walaupun tidak saling kenal merupakan salah satu kebiasaan yang sudah tertanam sejak dulu bagi kami orang Manggarai. Setelah sesi foto bersama, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu tempuh untuk sampai ke tempat tujuan diperkirakan 2 jam. Om Alex yang bertugas sebagai pemandu dalam kelompok kami mulai menjalankan tugasnya dengan memberikan informasi yang kami butuhkan. Sesekali, beliau membuat lelucon agar perjalanannya tidak menjenuhkan. Lumpur yang mulai menempel di sandal dan sepatu merupakan sesuatu yang tak bisa kami hindari. Sepasang suami-istri terlihat sedang membersihkan daerah sekitar area persawahan untuk mengurangi tikus yang masuk melalui semak-semak menanyakan maksud dan tujuan kami yang menyusuri daerah itu.

Foto: kopi dan kudapan yang disediakan oleh bapak Marsel sek.

Setelah kurang lebih 50 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di pondok bapak Marsel yang merupakan tempat pemberhentian untuk menikmati coffee break. Keindahan yang ada di sekitarnya membuat saya terkagum. Hamparan petak sawah yang berundak-undak kelihatan mempesona. Plastik berwarna warni, tali yang diikatkan dengan kaleng bekas juga orang-orangan yang digunakan untuk menakuti burung pipit merupakan pertanda bahwa musim panen segera tiba. Hal ini membawaku untuk mengingat kembali cerita dongeng 'Kokoaan Mencari Arumbangi' karya Cyntha Hariadi tentang menjadi seorang petani. Kopi dan kudapan telah tersaji. Harum wanginya yang khas membuat saya untuk segera menyeruputnya ditemani ubi tatas dan jagung. Keramah-tamahan petani yang berada di situ menambah hangat suasana. Ah, sebuah kesempatan luar biasa bisa mampir ke tempat ini.

Perjalanan yang masih panjang mengharuskan kami semua untuk segera bergegas. Tak lupa ucapkan terima kasih kami haturkan kepada Bpk. Marsel sekeluarga yang sudah menyiapkan tempat dan suguhan yang telah dinikmati. Melewati aliran kali kecil yang cukup deras merupakan tantangan tersendiri. Diperkirakan karena hujan lebat semalaman sehingga membuat debit airnya bertambah. Beberapa teman pemandu membantu kami semua untuk melintas. Ada yang harus melepaskan sepatu agar tidak basah. Ada juga yang memilih untuk tetap menggunakannya. Toh, sama saja, sepatunya sudah kotor. 

Hujan sudah mulai terlihat dari arah timur  saat kami mendekati kampung Londang. Setibanya di sana, hujan lebat mengguyur. Kami beristirahat sebentar sembari mengenakan mantel yang sudah dibagikan. Sempat terjadi perdebatan kecil setelah kami mendapatkan informasi dari ketua koordinator terkait perubahan tempat penjemputan yang seharusnya di Londang dan diubah ke Mendo yang merupakan desa tetangga. Dengan terpaksa dan tenaga yang masih tersisa, kami harus melanjutkan perjalanan menuju ke sana. Dibutuhkan waktu sekitar sejam untuk tiba di Mendo. Rasa lapar dan letih bercampur aduk menjadi satu. 

Foto: peserta kegiatan Pemandu Wisata Alam (Trekking).

Dalam perjalanan, Filan menginformasikan bahwa kami tidak bisa mengambil rute singkat yang sudah diantisipasi sebelumnya. Untungnya, salah satu peserta yang berasal dari sekitar daerah Mendo mengetahui jalan lain menuju ke sana. Setelah melewati jalan tani yang belum beraspal dan semak belukar, kami pun bisa melihat mobil jemputan yang sudah menunggu. Tepat pukul 12.43 wita kami tiba di Mendo untuk menikmati makan siang yang sudah disiapkan. Walaupun perjalanannya melelahkan, tetapi sangat mengesankan. Selain bisa melihat dan menikmati keindahan alam juga berkesempatan untuk bercengkrama bersama para petani.


Londang, 20 November 2021


Notes:

Visit our official website https://floresnaturetour.com for more information.

Explore and discover Komodo National Park and Flores with us and we will take you to the nature and its biodiversity.

We are ready to assist you and customize your itinerary that suits to your needs.


Comments

Popular posts from this blog

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Komodo Herping & Birding Report

Photo: Blue Lesser Sunda White-lipped Pitviper  Overview   Komodo National Park is not only popular because of Komodo Dragon as the only one living lizard in the world. Beside that, the island has at least 14 spesies of snakes which can be seen on Rinca, Padar and Komodo island and also more than 100 spesies of birds included Yellow-creasted Cockatoo and Flores Hawk Eagle which is categorised as critical endemic. Here is my trip report inSeptember, 09-11th 2024 during my herping and birding trip. Day 01: September 09th 2024 The weather was quite nice after the rain in the days before in Labuan Bajo. Unusually, there were only a few people in front of the arrival gate and a few airport officials in full uniform. On the screen, the flight route from Denpasar to Labuan Bajo was still on schedule before a melodious voice informed me that flight number 6331 had landed.  In front of the gate of Komodo Airport I waited for Alex & Sheilla - the guest who will be accompanied b...

Demi Si Kuning Trimeresurus Insularis

Foto: Yellow Trimeresurus insularis (James Adam) Suara tokek dan Celepuk Maluku mengiringi kegiatan herping kami pada malam itu. Kami masuk melalui sebuah jalan kecil yang biasa dilewati oleh orang-orang yang keluar masuk hutan sebagai jalan masuk. Cahaya senter yang digunakan seperti cahaya lampu-lampu di kelab malam. Bergerak ke sana ke mari menerangi setiap sisi. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Seminggu sebelumnya, Agus menelpon saya. Meminta kesediaan saya untuk menemani beliau bersama kedua orang tamu - Jo dan pacarnya - untuk herping. Jo sendiri pernah ke Labuan Bajo bersama rekan-rekannya untuk kegiatan yang sama tahun 2018 silam dan ditemani oleh Agus. Dan, ini adalah kunjungan keduanya Jo. Tetapi kali ini, target utamanya adalah si kuning Trimeresurus insularis .  Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami...