Skip to main content

Cerita Birding #Part1

Burung-gereja erasia/Passer montanus (Foto: Avelino) Cerita Birding #Part1 Pagi ini saya bangun terlambat setelah mematikan alarm yang berdering pukul 06.00. Lalu melanjutkan mimpi di atas kasur. Sejam kemudian, saya bangun kembali dan melirik ponsel. Waktu menunjukkan pukul 07.15 dan saya pun bergegas merapikan tempat tidur. Menuju ke dapur untuk minum segelas air hangat. Kemudian mencuci muka, memanaskan mesin motor & menyiapkan perlengkapan birding (teropong & buku).  Tepat pukul 07.40, saya berangkat dari rumah dan langsung menuju ke Wae Ces. Setelah berkendara 5 menit dari rumah, saya menyadari dompet saya tertinggal. Saya pun memutuskan kembali ke rumah untuk mengambilnya sebagai antisipasi jika ada masalah dengan motor dalam perjalanan. Saya tiba di Wae Ces, tepatnya pos penjagaan BKSDA pukul 08.00. Lalu memarkirkan kendaraan di tempat yang aman. Dengan segera, saya mengambil binocular dari dalam tas untuk melihat burung yang sedang berkicau. Beberapa pengendara roda...

Menyusuri Keindahan Alam Eksotis Di Londang

Area persawahan yang ada di Londang.
Foto: area persawahan di Londang. 

Menyusuri Keindahan Alam Eksotis Di Londang

Pagi itu sinar matahari yang mengintip dari celah daun-daun pohon ampupu (Eucalyptus urophylla) ingin memberitahu kami bahwa cuaca akan bersahabat. Sementara di sisi selatan wae Reno, awan mulai menampakkan diri di gunung Ranaka. Mobil yang kami tumpangi mulai mengurangi laju kecepatannya dan perlahan menepi di dekat Wae Reno. Selain sebagai lokasi untuk memulai kegiatan trekking, Wae Reno juga merupakan salah satu tempat penambang pasir yang terletak di perbatasan antara Kab. Manggarai dan Manggarai Timur, tepatnya di Desa Ranaka, Kab. Manggarai - NTT.

Sebelum memulai kegiatan, Filan selaku ketua koordinator lapangan (Korlap) dalam kegiatan itu memberikan arahan sekaligus memastikan perlengkapan yang sudah dijelaskan sehari sebelumnya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai pemandu wisata. Kami semua berjumlah kurang lebih 25 orang; 15 orang peserta kegiatan, 2 orang pegawai dari Dinas Pariwisata, dan sisanya pemandu wisata dari HPI Cabang Manggarai. Kami dibagi ke dalam lima (5) kelompok. Setiap kelompok terdiri dari lima (5) orang peserta dan tiap-tiap kelompok akan ditemani oleh satu orang pemandu. Pesertanya tidak hanya kaum adam, tetapi juga kamu hawa yang diutus dari desa mereka masing-masing. Setelah semuanya selesai, kami mengikuti arahan dari pemandu untuk menuju ke Londang, Desa Longko, Kec. Wae Ri'i.  

Waktu menunjukkan pukul 09.09 wita dan kami pun memulai perjalanan dengan menyusuri jalan tani yang berjarak 100 meter dari jalan umum. Setelah 5 menit perjalanan, kami memasuki area persawahan milik masyarakat setempat untuk mengambil foto bersama. Beberapa para petani yang sedang berada di ladang menyapa kami yang melintasi jalan itu. Kebiasaan untuk saling bertegur sapa yang walaupun tidak saling kenal merupakan salah satu kebiasaan yang sudah tertanam sejak dulu bagi kami orang Manggarai. Setelah sesi foto bersama, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu tempuh untuk sampai ke tempat tujuan diperkirakan 2 jam. Om Alex yang bertugas sebagai pemandu dalam kelompok kami mulai menjalankan tugasnya dengan memberikan informasi yang kami butuhkan. Sesekali, beliau membuat lelucon agar perjalanannya tidak menjenuhkan. Lumpur yang mulai menempel di sandal dan sepatu merupakan sesuatu yang tak bisa kami hindari. Sepasang suami-istri terlihat sedang membersihkan daerah sekitar area persawahan untuk mengurangi tikus yang masuk melalui semak-semak menanyakan maksud dan tujuan kami yang menyusuri daerah itu.

Foto: kopi dan kudapan yang disediakan oleh bapak Marsel sek.

Setelah kurang lebih 50 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di pondok bapak Marsel yang merupakan tempat pemberhentian untuk menikmati coffee break. Keindahan yang ada di sekitarnya membuat saya terkagum. Hamparan petak sawah yang berundak-undak kelihatan mempesona. Plastik berwarna warni, tali yang diikatkan dengan kaleng bekas juga orang-orangan yang digunakan untuk menakuti burung pipit merupakan pertanda bahwa musim panen segera tiba. Hal ini membawaku untuk mengingat kembali cerita dongeng 'Kokoaan Mencari Arumbangi' karya Cyntha Hariadi tentang menjadi seorang petani. Kopi dan kudapan telah tersaji. Harum wanginya yang khas membuat saya untuk segera menyeruputnya ditemani ubi tatas dan jagung. Keramah-tamahan petani yang berada di situ menambah hangat suasana. Ah, sebuah kesempatan luar biasa bisa mampir ke tempat ini.

Perjalanan yang masih panjang mengharuskan kami semua untuk segera bergegas. Tak lupa ucapkan terima kasih kami haturkan kepada Bpk. Marsel sekeluarga yang sudah menyiapkan tempat dan suguhan yang telah dinikmati. Melewati aliran kali kecil yang cukup deras merupakan tantangan tersendiri. Diperkirakan karena hujan lebat semalaman sehingga membuat debit airnya bertambah. Beberapa teman pemandu membantu kami semua untuk melintas. Ada yang harus melepaskan sepatu agar tidak basah. Ada juga yang memilih untuk tetap menggunakannya. Toh, sama saja, sepatunya sudah kotor. 

Hujan sudah mulai terlihat dari arah timur  saat kami mendekati kampung Londang. Setibanya di sana, hujan lebat mengguyur. Kami beristirahat sebentar sembari mengenakan mantel yang sudah dibagikan. Sempat terjadi perdebatan kecil setelah kami mendapatkan informasi dari ketua koordinator terkait perubahan tempat penjemputan yang seharusnya di Londang dan diubah ke Mendo yang merupakan desa tetangga. Dengan terpaksa dan tenaga yang masih tersisa, kami harus melanjutkan perjalanan menuju ke sana. Dibutuhkan waktu sekitar sejam untuk tiba di Mendo. Rasa lapar dan letih bercampur aduk menjadi satu. 

Foto: peserta kegiatan Pemandu Wisata Alam (Trekking).

Dalam perjalanan, Filan menginformasikan bahwa kami tidak bisa mengambil rute singkat yang sudah diantisipasi sebelumnya. Untungnya, salah satu peserta yang berasal dari sekitar daerah Mendo mengetahui jalan lain menuju ke sana. Setelah melewati jalan tani yang belum beraspal dan semak belukar, kami pun bisa melihat mobil jemputan yang sudah menunggu. Tepat pukul 12.43 wita kami tiba di Mendo untuk menikmati makan siang yang sudah disiapkan. Walaupun perjalanannya melelahkan, tetapi sangat mengesankan. Selain bisa melihat dan menikmati keindahan alam juga berkesempatan untuk bercengkrama bersama para petani.


Londang, 20 November 2021


Explore and discover Komodo National Park and Flores with us in https://floresnaturetour.com and we will take you to the nature and its biodiversity.

Comments

Popular posts from this blog

Mencari Ular Biru & Piton Timor di Habitat Alaminya

Foto: Ular biru/Trimeresurus insularis di Taman Nasional Komodo. Mencari Ular Biru & Piton Timor di Habitat Alaminya Gambaran Umum Taman Nasional Komodo merupakan salah satu destinasi satwa liar paling ikonik di Indonesia sekaligus Situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di Kepulauan Sunda Kecil. Meskipun kawasan ini terkenal sebagai habitat dan benteng perlindungan Komodo  Varanus komodoensis , taman nasional ini juga merupakan hotspot keanekaragaman hayati bagi reptil dan amfibi, menjadikannya salah satu destinasi herping terbaik di Indonesia. Hutan musim yang kering, savana yang luas, habitat pesisir, serta pulau-pulau berbukit di Taman Nasional Komodo menyediakan kondisi ideal bagi beragam satwa liar, termasuk sejumlah spesies endemik Kepulauan Sunda Kecil. Reptil yang paling dicari oleh para herper adalah Ular Biru Trimeresurus insularis atau  Ular Hijau Ekor Merah  yang menakjubkan serta Sanca Timor   Malayopython timoriensis yang cukup sulit ditemu...

Menjadi Birding Guide: Antara Mimpi, Tantangan, dan Konsistensi

Pose bersama Carsten, seorang tamu burung yang saya temani selama 6D5N. Menjadi Birding Guide: Antara Mimpi, Tantangan, dan Konsistensi Menjadi seorang pemandu pengamatan burung birding guide  mungkin merupakan impian bagi sebagian orang. Namun, impian akan tetap menjadi mimpi jika tidak dibarengi dengan ketekunan, kesabaran, dan konsistensi untuk terus belajar. Perjalanan Perdana sebagai Seorang Birding Guide  Oktober 2023 menjadi perjalanan perdana saya sebagai seorang birder —sebuah pengalaman yang kemudian membuat saya jatuh cinta dan mulai menekuni dunia birding secara lebih serius, baik sebagai passion maupun profesi.  Saat itu, saya bersama Alvin Ebot dipercaya oleh Yovie Jehabut untuk mendampingi tamu dalam sebuah trip selama 5 hari 4 malam. Para tamu tersebut berasal dari Taiwan dan berjumlah tiga orang.  Yovie Jehabut sendiri adalah seorang birder asal Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang telah banyak berkeliling Indonesia untuk mendampingi tamu dala...

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca , Taman Nasional Komodo

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Jelajah Alam Liar Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo - Indonesia  Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya ...