Sekitar dua tahun yang lalu, mas Agus pernah ke hutan ini bersama rekan-rekannya. Beliau sangat menyukai herping. Untuk diketahui, herping merupakan kegiatan pengamatan satwa jenis herpetofauna reptil dan amfibi. Hal yang paling diingat oleh mas Agus adalah sebuah deker sebagai jalan masuk ke dalam hutan. Saya pun mengikuti beliau dari belakang. Bermodalkan senter handphone, saya menerangi jalan yang becek akibat rembesan air dari pipa yang bocor. Senter handphone yang tidak begitu terang mengharuskan saya untuk lebih berhati-hati melewati tumbuhan liar setinggi pinggang. Sesekali, saya mengarahkannya ke ranting-ranting bambu berduri yang berada di hutan itu.
Berjarak sekitar 20 meter dari jalan masuk, mas Agus dengan senter di kepala dan kecepatan mata yang lihai melihat seekor ular Mati Ekor (Trimeresurus insularis) yang sedang mengintai mangsa di antara ranting-ranting bambu yang sudah kering. Kami berdua bergegas mendekatinya sembari menjaga jarak aman. Ular itu masih muda dan berukuran sedang. Mas Agus pun menjelaskan bahwa ular hijau memiliki dua taring yang berada di posisi rahang atas. Taring ini dimiliki oleh semua jenis ular berbisa. Dari taring itulah bisa akan disuntikkan ke mangsanya. Bisa itu berada di seputaran kepala yang dikenal dengan nama hemotoxin. Lebih lanjut, beliau pun menjelaskan warna ular hijau yang ada di dalam kawasan hutan Bowosie dan kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) tentunya berbeda. Perbedaan itu disebabkan oleh faktor lingkungan. Di dalam kawasan TNK, warnanya tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan ular hijau yang hidup di hutan ini. Dari penjelasan mas Agus, saya mendapatkan pengetahuan baru tentang ular; secara khusus ular hijau. Mengambil beberapa foto dan video merupakan kesempatan yang tidak ingin dilewatkan oleh kami berdua. Setelah semuanya selesai, kami melanjutkan pencarian. Tak jauh dari situ, seekor laba-laba (belum diketahui jenisnya) sedang menunggu mangsanya di tangkai bunga bangkai.
Waktu terus berlalu. Cahaya bulan perlahan terlihat di antara celah-celah dahan pohon yang menjulang tinggi. Tak terasa sudah dua jam kami mengintari kawasan hutan itu. Mengingat waktu yang sudah hampir tengah malam, kami memutuskan untuk pulang melawati jalan yang berbeda. Tepat sebelum saya maju satu langkah, Senter mas Agus langsung tertuju ke ular hijau yang kedua. Ukurannya lebih besar dari yang pertama. Kemungkinan ular itu baru saja selesai menikmati santap malam. Kami mengamatinya dengan seksama dan mengambil beberapa foto serta video. Di jalan pulang, tepatnya sebelum masuk ke jalan aspal, ada sebuah plang berisi larangan untk melakukan aktivitas perambahan hutan. Setelah dibaca, ternyata kawasan hutan yang baru saja kami telusuri masuk dalam kawasan hutan lindung Bowosie.
Setibanya di tempat kami memarkirkan kendaraan, perasaan lega dan senang terpancar dari raut wajah mas Agus. "Setidaknya kita tidak sia-sia ini malam, Fin," ujarnya sembari menikmati sebatang rokok. Ia juga menambahkan, besar kemungkinan hutan lindung Bowosie dihuni oleh berbagai spesies reptil dan amfibi. Di samping rasa senang dan bahagia, sempat terbesit dalam ingatan rasa cemas tentang masa depan hutan ini. Mengingat bahwa sebagian besar dari kawasan hutan Bowosie sudah dibabat habis-habisan demi kepentingan bisnis ''orang-orang berdasi''. Apakah kita masih bisa menjumpai para penghuninya di tahun-tahun yang akan akan datang? Ataukah hanya sekedar mendengar cerita tentang hutan ini? Kita belum mengetahuinya dengan pasti.
Labuan Bajo, 11 November 2022
Notes:
Visit our official website https://floresnaturetour.com for more information.
We are ready to assist you and customize your itinerary that suits to your needs.

Comments