Skip to main content

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Melihat Lebih Dekat Kehidupan Sebagian Penghuni Hutan Bowosie

Foto: Lesser Sundas White-lipped Pitviper (Trimeresurus insularis)


Suara binatang malam mulai bersahutan. Udara terasa dingin. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Anjing menyalak bergantian. Mesin kendaraan bermotor dimatikan saat kami tiba di lokasi yang kedua. Lokasi ini dipilih melalui hasil kesepakatan bersama setelah di lokasi pertama saya dan mas Agus tidak menemukan seekor pun ular. Hanya ada katak pohon (striped tree frog), bunga bangkai (corpse flower) serta suara burung hantu (Molucan Scops-Owl) yang seakan sedang berlomba-lomba dengan suara serangga.

Sekitar dua tahun yang lalu, mas Agus pernah ke hutan ini bersama rekan-rekannya. Beliau sangat menyukai herping. Untuk diketahui, herping merupakan kegiatan pengamatan satwa jenis herpetofauna reptil dan amfibi. Hal yang paling diingat oleh mas Agus adalah sebuah deker sebagai jalan masuk ke dalam hutan. Saya pun mengikuti beliau dari belakang. Bermodalkan senter handphone, saya menerangi jalan yang becek akibat rembesan air dari pipa yang bocor. Senter handphone yang tidak begitu terang mengharuskan saya untuk lebih berhati-hati melewati tumbuhan liar setinggi pinggang. Sesekali, saya mengarahkannya ke ranting-ranting bambu berduri yang berada di hutan itu.

Berjarak sekitar 20 meter dari jalan masuk, mas Agus dengan senter di kepala dan kecepatan mata yang lihai melihat seekor ular Mati Ekor (Trimeresurus insularis) yang sedang mengintai mangsa di antara ranting-ranting bambu yang sudah kering. Kami berdua bergegas mendekatinya sembari menjaga jarak aman. Ular itu masih muda dan berukuran sedang. Mas Agus pun menjelaskan bahwa ular hijau memiliki dua taring yang berada di posisi rahang atas. Taring ini dimiliki oleh semua jenis ular berbisa. Dari taring itulah bisa akan disuntikkan ke mangsanya. Bisa itu berada di seputaran kepala yang dikenal dengan nama hemotoxin. Lebih lanjut, beliau pun menjelaskan warna ular hijau yang ada di dalam kawasan hutan Bowosie dan kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) tentunya berbeda. Perbedaan itu disebabkan oleh faktor lingkungan. Di dalam kawasan TNK, warnanya tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan ular hijau yang hidup di hutan ini. Dari penjelasan mas Agus, saya mendapatkan pengetahuan baru tentang ular; secara khusus ular hijau. Mengambil beberapa foto dan video merupakan kesempatan yang tidak ingin dilewatkan oleh kami berdua. Setelah semuanya selesai, kami melanjutkan pencarian. Tak jauh dari situ, seekor laba-laba (belum diketahui jenisnya) sedang menunggu mangsanya di tangkai bunga bangkai.

Waktu terus berlalu. Cahaya bulan perlahan terlihat di antara celah-celah dahan pohon yang menjulang tinggi. Tak terasa sudah dua jam kami mengintari kawasan hutan itu. Mengingat waktu yang sudah hampir tengah malam, kami memutuskan untuk pulang melawati jalan yang berbeda. Tepat sebelum saya maju satu langkah, Senter mas Agus langsung tertuju ke ular hijau yang kedua. Ukurannya lebih besar dari yang pertama. Kemungkinan ular itu baru saja selesai menikmati santap malam. Kami mengamatinya dengan seksama dan mengambil beberapa foto serta video. Di jalan pulang, tepatnya sebelum masuk ke jalan aspal, ada sebuah plang berisi larangan untk melakukan aktivitas perambahan hutan. Setelah dibaca, ternyata kawasan hutan yang baru saja kami telusuri masuk dalam kawasan hutan lindung Bowosie. 

Setibanya di tempat kami memarkirkan kendaraan, perasaan lega dan senang terpancar dari raut wajah mas Agus. "Setidaknya kita tidak sia-sia ini malam, Fin," ujarnya sembari menikmati sebatang rokok. Ia juga menambahkan, besar kemungkinan hutan lindung Bowosie dihuni oleh berbagai spesies reptil dan amfibi. Di samping rasa senang dan bahagia, sempat terbesit dalam ingatan rasa cemas tentang masa depan hutan ini. Mengingat bahwa sebagian besar dari kawasan hutan Bowosie sudah dibabat habis-habisan demi kepentingan bisnis ''orang-orang berdasi''. Apakah kita masih bisa menjumpai para penghuninya di tahun-tahun yang akan akan datang? Ataukah hanya sekedar mendengar cerita tentang hutan ini? Kita belum mengetahuinya dengan pasti.


Labuan Bajo, 11 November 2022

Notes:

Visit our official website https://floresnaturetour.com for more information.

Explore and discover Komodo National Park and Flores with us and we will take you to the nature and its biodiversity.

We are ready to assist you and customize your itinerary that suits to your needs.









Comments

Popular posts from this blog

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Komodo Herping & Birding Report

Photo: Blue Lesser Sunda White-lipped Pitviper  Overview   Komodo National Park is not only popular because of Komodo Dragon as the only one living lizard in the world. Beside that, the island has at least 14 spesies of snakes which can be seen on Rinca, Padar and Komodo island and also more than 100 spesies of birds included Yellow-creasted Cockatoo and Flores Hawk Eagle which is categorised as critical endemic. Here is my trip report inSeptember, 09-11th 2024 during my herping and birding trip. Day 01: September 09th 2024 The weather was quite nice after the rain in the days before in Labuan Bajo. Unusually, there were only a few people in front of the arrival gate and a few airport officials in full uniform. On the screen, the flight route from Denpasar to Labuan Bajo was still on schedule before a melodious voice informed me that flight number 6331 had landed.  In front of the gate of Komodo Airport I waited for Alex & Sheilla - the guest who will be accompanied b...

Demi Si Kuning Trimeresurus Insularis

Foto: Yellow Trimeresurus insularis (James Adam) Suara tokek dan Celepuk Maluku mengiringi kegiatan herping kami pada malam itu. Kami masuk melalui sebuah jalan kecil yang biasa dilewati oleh orang-orang yang keluar masuk hutan sebagai jalan masuk. Cahaya senter yang digunakan seperti cahaya lampu-lampu di kelab malam. Bergerak ke sana ke mari menerangi setiap sisi. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Seminggu sebelumnya, Agus menelpon saya. Meminta kesediaan saya untuk menemani beliau bersama kedua orang tamu - Jo dan pacarnya - untuk herping. Jo sendiri pernah ke Labuan Bajo bersama rekan-rekannya untuk kegiatan yang sama tahun 2018 silam dan ditemani oleh Agus. Dan, ini adalah kunjungan keduanya Jo. Tetapi kali ini, target utamanya adalah si kuning Trimeresurus insularis .  Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami...