Skip to main content

Cerita Birding #Part1

Burung-gereja erasia/Passer montanus (Foto: Avelino) Cerita Birding #Part1 Pagi ini saya bangun terlambat setelah mematikan alarm yang berdering pukul 06.00. Lalu melanjutkan mimpi di atas kasur. Sejam kemudian, saya bangun kembali dan melirik ponsel. Waktu menunjukkan pukul 07.15 dan saya pun bergegas merapikan tempat tidur. Menuju ke dapur untuk minum segelas air hangat. Kemudian mencuci muka, memanaskan mesin motor & menyiapkan perlengkapan birding (teropong & buku).  Tepat pukul 07.40, saya berangkat dari rumah dan langsung menuju ke Wae Ces. Setelah berkendara 5 menit dari rumah, saya menyadari dompet saya tertinggal. Saya pun memutuskan kembali ke rumah untuk mengambilnya sebagai antisipasi jika ada masalah dengan motor dalam perjalanan. Saya tiba di Wae Ces, tepatnya pos penjagaan BKSDA pukul 08.00. Lalu memarkirkan kendaraan di tempat yang aman. Dengan segera, saya mengambil binocular dari dalam tas untuk melihat burung yang sedang berkicau. Beberapa pengendara roda...

Secuil Kisah Dari Nuca Molas

Foto: pulau Nuca Molas/Mules.


Secuil Kisah Dari Nuca Molas

Semilir angin membawa aroma laut. Perahu-perahu nelayan yang tertambat terlihat tenang di sepanjang garis pantai. Mentari seakan malu untuk menampakkan diri. Hanya bias-bias cahaya yang terlihat dibalik awan membuat kami tak bisa menikmati matahari terbit di Labuan Ta'ur. Kampung ini merupakan salah satu kampung yang ada di pulau Nuca Molas. Secara harafiah, 'Nuca' artinya 'Nusa', dan 'Molas' artinya 'Cantik'. Nuca Molas berarti nusa yang cantik.

Adapun agenda kami ke pulau Nuca Molas yaitu melakukan survei potensi wisata yang ada di pulau itu untuk mendukung kemajuan pariwisata agar dapat menjadi opsi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara bila berkunjung ke Waerebo. Kami menghabiskan waktu selama dua (2) hari di sana terhitung dari tanggal 11 -12 Desember 2021. Ada tujuh (7) orang yang tergabung dalam kegiatan kecil itu. Pak Adi dari Dinas Pariwisata Kab. Manggarai, pak Leo dari ASITA sedangkan kak Ino, kak Edo, kak Filan, pak Ave dan saya sendiri adalah perwakilan dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Manggarai. Kami semua menginap di rumah Faisal yang adalah penduduk setempat dan juga ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di pulau itu. Malam sebelumnya, kami  telah membuat kesepakatan untuk menyusuri pulau Nuca Molas dari mercusuar yang terletak di ujung selatan pulau menuju ke Labuan Ta'ur. Tak Lama setelah menikmati sarapan pagi dan kopi plus kompiang yang kami bawa dari Ruteng, kami pun bergegas menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan selama dalam perjalanan. Faisal pun meminta ketiga bantuan temannya (Fais, Lukman dan As) untuk menemani kami menuju ke sana. Lukman adalah juru kemudi kami.

Secara administratif, Nuca Molas terletak di bagian selatan kota Ruteng, Kab. Manggarai, Flores - Indonesia. Pulau ini juga dikenal dengan nama pulau Mules atau pulau Molas. Pulau Nuca Molas memiliki satu desa yang terdiri dari tiga (3) kampung, yaitu: kampung Labuan Ta'ur yang terletak di bagian barat, kampung Peji yang terletak di bagian tengah, dan kampung Konggang yang terletak di bagian timur. Dan, ada 336 kepala keluarga yang mendiaminya. Mereka berasal dari Sabu, Ende dan Manggarai. Mayoritas masyarakatnya beragama muslim dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Untuk sampai ke sana, dibutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit menggunakan perahu nelayan sebagai satu-satunya alat transportasi. Titik keberangkatannya dari Dintor yang merupakan salah satu kampung terdekat.

***

Deru perahu yang kami tumpangi memekikkan telinga. Membelah laut. Membuat kami hanya bisa melihat dan menikmati pemandangan yang ada di sekitar. Sesekali, saya melirik ponsel memastikan waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke mercusuar. Hijau toska air laut yang berpadu dengan pasir putih yang membentang sepanjang pantai menghiasi sisi utara pulau ini. Kurang lebih sekitar 10 menit kami terombang-ambing karena gulungan ombak yang menghantam dinding perahu juga ukurannya yang kecil sebelum  kami tiba di Tanjung Hiu yang merupakan nama tempat di mana mercusuar itu berada. Di musim-musim tertentu, ombak bisa mencapai ketinggian 1 meter. Dan, alasan itu pula yang membuat para nelayan tidak bisa melaut. Kami yang baru pertama kali ke tempat ini sangat terkejut ketika melihat tiga (3) jejak penyu beserta bekas galiannya. Bisa dipastikan penyu-penyu itu mampir ke sana untuk bertelur. Sayangnya, ada juga jejak kaki manusia. Sepertinya mereka telah menggalinya untuk mengambil telur-telur itu. As kemudian menceritakan bahwa masyarakat setempat seringkali ke tanjung ini untuk mengambil telur-telur penyu jika waktunya tiba. Hal ini mungkin saja terjadi karena kurangnya informasi dan sosialisasi serta pengetahuan tentang penyu sebagai salah satu biota laut yang dilindungi. 

Foto: tim yang pergi ke pulau Nuca Molas/Mules.

Rasa kagum dan bangga terpancar di wajah kami masing-masing ketika tiba di mercusuar yang dibangun pada 1996 itu. Dengan langkah yang tertatih-tatih dan detak jantung yang tak lagi seirama, kami pun berhasil mencapai puncaknya. Bentangan laut sawu dan hamparan padang savana yang dihiasi oleh pohon lontar serta gunung batu (373 mdpl) yang merupakan puncak gunung tertinggi di pulau Nuca Molas adalah serangkaian pemandangan yang disuguhkan kepada kami sembari menikmati angin laut. Setelah itu, kami turun dari mercusuar untuk melanjutkan perjalanan. Namun, kami membuat kesepakatan yang baru untuk memutuskan apakah melanjutkan perjalanan menggunakan perahu motor atau dengan berjalan kaki menyusuri padang savanah. Rupanya pilihan terakhir adalah pilihan terbaik. Susahnya sinyal dan jaringan internet mengharuskan Fais yang ikut bersama kami kembali ke perahu motor untuk memberitahu Lukman tentang kesepakatan yang baru. 

Siang itu, sinar matahari membakar kulit yang berlindung dibalik topi dan pakaian yang kami kenakan. Tetapi, suguhan pemandangan sepanjang jalur itu membuat kami tak menghiraukannya. Tiga jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke titik perhentian berikutnya. Dalam perjalanan, ada sekitar tiga puluhan ekor sapi yang dilepas-liarkan di padang savanah. Namun, tak ada kuda, rusa, dan babi hutan maupun ular seperti yang diinformasikan kepada kami. Hanya kicauan burung yang terdengar dan terlihat terbang melintas. Setibanya di sana, kami melihat perahu motor sudah tiba sedari awal. Kami yang telah menempuh perjalanan panjang pun beristirahat sebentar. Melepas semua kepenatan. Meneguk sisa air di tumbler. As pun menjelaskan bahwa butuh waktu sejam lagi untuk sampai di Labuan Ta'ur. Sayangnya, Hanya kami berempat (saya, As, kak Filan dan pak Leo) yang memilih untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan, sebagian dari kami tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan dan memilih menggunakan perahu motor. 

Sembari menyusuri lembah dan jalur trek yang ada, kami bertemu dengan tiga (3) orang penduduk setempat sedang mengangkat kayu yang baru saja dibelah menggunakan mesin pemotong kayu. Mereka pun menanyakan tujuan kami ke pulau itu. Di sana, masyarakatnya bebas mengambil kayu-kayu itu sebagai material untuk membangun rumah. Setelah mengobrol dengan mereka, kami melanjutkan perjalanan. Kembali memasuki hutan. Kembali mencari dan menemukan yang masih tersembunyi dari Nuca Molas. Pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang bibir pantai menjadi pelindung bagi kami dari sengatan sinar matahari. Sekitar kurang lebih 500 m dari perkampungan, As menawarkan kelapa muda untuk kami nikmati. Kelihaiannya untuk memanjat membuat kami tak perlu menunggu waktu lama. Enam buah kelapa muda berhasil ia turunkan. Walaupun air kepalanya tak semanis madu, tapi setidaknya mampu memberikan kelegaan kepada tenggorokan yang haus dahaga. Akhirnya, pukul 11.20 wita kami tiba di Labuan Ta'ur. Ikan kuah dan ikan panggang telah disiapkan sebagai menu makan siang. Setelah selesai santap siang, kami membereskan semua perlengkapan untuk kembali ke Ruteng. Ucapan terima kasih karena telah menyuguhkan makanan yang super lezat dan menyediakan tempat selama dua hari merupakan kata terakhir sebagai perpisahan. Faisal pun mengungkapkan perasaan yang sama karena telah berkunjung ke Nuca Molas.  Ia berharap, pertemuan ini bukanlah yang terakhir kalinya. Namun, akan ada pertemuan lainnya. Membagikan cerita dan pengetahuan untuk memajukan pariwisata yang ada di Nuca Molas. Sebagai buah tangan, masing-masing dari kami mendapatkan ikan teri/lure.


Nuca Molas, 11 Desember 2021

Explore and discover Komodo National Park and Flores with us in https://floresnaturetour.com and we will take you to the nature and its biodiversity.

Notes: tulisan ini sebelumnya sudah pernah dimuat atas izin penulis.



 

 

Comments

Popular posts from this blog

Mencari Ular Biru & Piton Timor di Habitat Alaminya

Foto: Ular biru/Trimeresurus insularis di Taman Nasional Komodo. Mencari Ular Biru & Piton Timor di Habitat Alaminya Gambaran Umum Taman Nasional Komodo merupakan salah satu destinasi satwa liar paling ikonik di Indonesia sekaligus Situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di Kepulauan Sunda Kecil. Meskipun kawasan ini terkenal sebagai habitat dan benteng perlindungan Komodo  Varanus komodoensis , taman nasional ini juga merupakan hotspot keanekaragaman hayati bagi reptil dan amfibi, menjadikannya salah satu destinasi herping terbaik di Indonesia. Hutan musim yang kering, savana yang luas, habitat pesisir, serta pulau-pulau berbukit di Taman Nasional Komodo menyediakan kondisi ideal bagi beragam satwa liar, termasuk sejumlah spesies endemik Kepulauan Sunda Kecil. Reptil yang paling dicari oleh para herper adalah Ular Biru Trimeresurus insularis atau  Ular Hijau Ekor Merah  yang menakjubkan serta Sanca Timor   Malayopython timoriensis yang cukup sulit ditemu...

Menjadi Birding Guide: Antara Mimpi, Tantangan, dan Konsistensi

Pose bersama Carsten, seorang tamu burung yang saya temani selama 6D5N. Menjadi Birding Guide: Antara Mimpi, Tantangan, dan Konsistensi Menjadi seorang pemandu pengamatan burung birding guide  mungkin merupakan impian bagi sebagian orang. Namun, impian akan tetap menjadi mimpi jika tidak dibarengi dengan ketekunan, kesabaran, dan konsistensi untuk terus belajar. Perjalanan Perdana sebagai Seorang Birding Guide  Oktober 2023 menjadi perjalanan perdana saya sebagai seorang birder —sebuah pengalaman yang kemudian membuat saya jatuh cinta dan mulai menekuni dunia birding secara lebih serius, baik sebagai passion maupun profesi.  Saat itu, saya bersama Alvin Ebot dipercaya oleh Yovie Jehabut untuk mendampingi tamu dalam sebuah trip selama 5 hari 4 malam. Para tamu tersebut berasal dari Taiwan dan berjumlah tiga orang.  Yovie Jehabut sendiri adalah seorang birder asal Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang telah banyak berkeliling Indonesia untuk mendampingi tamu dala...

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca , Taman Nasional Komodo

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Jelajah Alam Liar Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo - Indonesia  Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya ...