Perjalanan layaknya merayakan perjumpaan antara imajinasi & realitas.
~~~
Jalan tanah dan berbatu sejauh 1 km mengurangi laju kendaraan roda empat yang kami tumpangi. Hamparan padang rumput berwarna kuning-kecoklatan membentang luas. Warna bongkahan-bongkahan batu dari aktivitas gunung berapi yang telah meletus berjuta-juta tahun yang lalu juga pohon-pohon gamal (Gliricidia sepium) yang nampak kering tanpa dedaunan adalah daya tarik lain yang ditawarkan selain keindahan kampung adatnya. Kami memutuskan berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang dituju. Debu terus mengepul ke udara seiring kaki melangkah. Menempel di sepatu dan sendal yang kami pakai. Sengatan sinar matahari dengan suhu 30° C pun tak dapat dihindarkan. Membakar kulit yang berlindung di balik pakaian yang kami kenakan. Bermandikan keringat. Sesekali, angin muncul seperti setan yang bergentayangan. Ketertarikan akan keindahan kampung Kawa terus memberi semangat di saat langkah kaki mulai terseok-seok.
Perjalanan kami terhenti ketika dua buah pohon besar dengan ranting-ranting yang tampak kering berdiri tegak di sisi kiri dan kanan. Salah satu dari pohon besar itu mengingatkan saya kembali dengan salah satu serial film "Avatar" tentang suku Na'vi yang hidupnya selaras dengan alam. Mereka menyembah Eywa (Dewi ibu) sebagai penjaga/pelindung yang tinggal di pohon Rantent utraiti (sebutan untuk pohon Arwah Metkayina yang dikenal oleh bangsa Na'vi dalam film itu). Di tengah-tengah ke dua pohon besar itu terdapat batu yang tersusun rapi membentuk segi empat. Sementara itu, jauh di depan sana, puncak Ebulobo terlihat jelas dengan ciri khasnya sebagai gunung berapi. Begitu pula dengan gunung Amegelu sebagai latar belakang perkampungan. Keduanya memperlihatkan keperkasaan masing-masing.
Semilir angin berhembus seakan menghipnotis sembari membisikan sesuatu. Sebuah peribahasa "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tinggi" terus terngiang di kepala. Bagi orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kampung Kawa, tidak diperbolehkan untuk masuk ke perkampungan sebelum melakukan ritual adat poru loru keta ja sebagai ucapan selamat datang sekaligus membebaskannya dari aura negatif ataupun daya magis yang mengganggu. Saya adalah satu-satunya. Salah satu di antara kami bertiga menuju ke rumah tetua adat dan saya harus menunggu hingga beberapa menit.
Ada tiga belas rumah adat yang saling berhadapan dan membentuk huruf U. Atapnya terbuat dari alang-alang yang diikatkan ke bambu sebagai bantalan menggunakan tali ijuk (Arenga pinnata). Tiang penyangga utamanya terbuat dari kayu nangka (Artocarpus heterophyllus) yang telah diwariskan turun-temurun. Tiap-tiap rumah adat ditempati oleh satu sampai tiga kepala keluarga. Akan tetapi, di saat upacara adat tiba, semua keluarga yang menetap di wilayah yang jauh akan berkumpul bersama untuk merayakannya.
Di depan rumah adat, batu-batuan vulkanik dengan berbagai bentuk dan ukuran tersusun rapi membentuk segi empat sehingga menyerupai sebuah altar/mesbah. Tingginya tidak sampai semeter. Di bagian tengahnya terdapat batu lempeng yang digunakan untuk menyimpan sesajen. Tak hanya itu, batuan yang sama pun digunakan untuk menandai kuburan-kuburan tua yang berada di sekeliling kampung. Setiap rumah akan mendapatkan gilirannya masing-masing bila ada tamu yang memilih untuk menginap. Generator akan dihidupkan dengan batas waktu tertentu. Sehari-hari, warga masyarakat setempat menggunakan tenaga surya sebagai sumber penerangan. Di kampung Kawa, setiap pengunjung akan menemukan kedamaian. Bernostalgia tentang kehidupan. Tenggelam dalam cerita serta gelak tawa sebagai satu keluarga.
Secara administratif, kampung kawa terletak di desa Labolewa - Aesesa - Nagekeo - NTT. Kurang lebih ada sekitar lima puluhan orang yang mendiami kampung ini. Nenek moyang mereka berasal dari Keowoa - tiwu Lewu yang terletak di bagian utara pulau Flores. Kampung adat ini berada di ketinggian 682 m di atas permukaan laut. Kemiri, kelapa dan kayu putih (Eucalyptus Alba) adalah jenis pepohonan yang bisa dijumpai juga beberapa jenis pohon dan tumbuhan lainnya.
Suasana kampung Kawa membuat setiap pengunjung terbuai dengan keindahannya. Membuat kami terjebak dan lupa waktu. Jam menunjukkan pukul tiga lewat seperempat. Sebentar lagi matahari akan pamit menuju ke peraduannya. Kami harus segera pamit pulang. Mengucapkan salam perpisahan. Melanjutkan cerita-cerita yang tak kunjung usai. Melanjutkan perjalanan menuju ke puncak rindu pada orang-orang terkasih yang sudah menunggu di rumah.
Kampung Kawa, 12 September 2023
Notes:
Visit our official website https://floresnaturetour.com for more information.
We are ready to assist you and customize your itinerary that suits to your needs.



Comments