Skip to main content

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Kampung Kawa dan Ritual Adat yang Masih Melekat

 

Foto: kampung adat Kawa.

Perjalanan layaknya merayakan perjumpaan antara imajinasi & realitas. 

~~~

Jalan tanah dan berbatu sejauh 1 km mengurangi laju kendaraan roda empat yang kami tumpangi. Hamparan padang rumput berwarna kuning-kecoklatan membentang luas. Warna bongkahan-bongkahan batu dari aktivitas gunung berapi yang telah meletus berjuta-juta tahun yang lalu juga pohon-pohon gamal (Gliricidia sepium) yang nampak kering tanpa dedaunan adalah daya tarik lain yang ditawarkan selain keindahan kampung adatnya. Kami memutuskan berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang dituju. Debu terus mengepul ke udara seiring kaki melangkah. Menempel di sepatu dan sendal yang kami pakai.  Sengatan sinar matahari dengan suhu 30° C pun tak dapat dihindarkan. Membakar kulit yang berlindung di balik pakaian yang kami kenakan. Bermandikan keringat. Sesekali, angin muncul seperti setan yang bergentayangan. Ketertarikan akan keindahan kampung Kawa terus memberi semangat di saat langkah kaki mulai terseok-seok.

Perjalanan kami terhenti ketika dua buah pohon besar dengan ranting-ranting yang tampak kering berdiri tegak di sisi kiri dan kanan. Salah satu dari pohon besar itu mengingatkan saya kembali dengan salah satu serial film "Avatar" tentang suku Na'vi yang hidupnya selaras dengan alam. Mereka menyembah Eywa (Dewi ibu) sebagai penjaga/pelindung yang tinggal di pohon Rantent utraiti (sebutan untuk pohon Arwah Metkayina yang dikenal oleh bangsa Na'vi dalam film itu). Di tengah-tengah ke dua pohon besar itu terdapat batu yang tersusun rapi membentuk segi empat. Sementara itu, jauh di depan sana, puncak Ebulobo terlihat jelas dengan ciri khasnya sebagai gunung berapi. Begitu pula dengan gunung Amegelu sebagai latar belakang perkampungan. Keduanya memperlihatkan keperkasaan masing-masing.

Semilir angin berhembus seakan menghipnotis sembari membisikan sesuatu. Sebuah peribahasa "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tinggi" terus terngiang di kepala. Bagi orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kampung Kawa, tidak diperbolehkan untuk masuk ke perkampungan sebelum melakukan ritual adat poru loru keta ja sebagai ucapan selamat datang sekaligus membebaskannya dari aura negatif ataupun daya magis yang mengganggu. Saya adalah satu-satunya. Salah satu di antara kami bertiga menuju ke rumah tetua adat dan saya harus menunggu hingga beberapa menit. 

Foto: bapa Don sedang melakukan ritual adat.

Kulit keriputnya menunjukkan bahwa usianya sudah tak lagi muda. Sedangkan jari-jemarinya memperlihatkan keuletannya sebagai seorang petani ulung. Bajunya tampak usang. Ia mengenakan kain sarung berwarna hitam dengan motif adat setempat dan juga sendal jepit berwarna biru yang (telah) menemaninya kemanapun ia pergi. Lengkap dengan sorban di kepala dan juga sebuah tas selempang hasil rajutan.  Di tangan kirinya ada sebuah Kula (wadah kecil yang terbuat dari buah labu kering) yang berisi air dan beras. Raut wajahnya menorehkan senyum kebahagiaan.

"Ini bapa Don, tetua adat di kampung Kawa." Ujar ka'e Eman seraya memperkenalkan beliau yang sudah berdiri di depan saya.

Bapa Don mengucapkan sepatah kata doa dalam bahasa setempat sembari mengadukan air dan beras yang ada di wadah dengan jemarinya. Ia pun memercikkannya, menyiram sisanya di sekeliling sambil mengarahkan saya untuk maju selangkah. Kemudian memandu saya melewati empat batu lempeng yang berdiri sejajar di kiri dan kanan menuju ke salah satu rumah adat. Kami pun disambut dengan hangat lewat senyuman dan wajah ceria juga harumnya kopi yang telah disediakan.

Anak-anak kecil berlarian. Para kaum hawa sibuk memasak. Begitu pula dengan kaum adam yang sedang asyik dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang sedang mengangkat kayu sebagai penopang rumah adat, ada pula yang membelah bambu sebagai bilik. Mereka sedang membuat rumah adat yang baru milik bapa Don. Semua warga kampung turut ambil bagian dalam mengerjakannya.  Dengan lihainya, ka'e Alfred pun mengabadikan momen indah itu. Bapa Don menjelaskan bahwa mereka hanya boleh makan sekali sehari selama proses pembuatan rumah adat menurut hukum adat setempat. Membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Tidak boleh kurang ataupun lebih. Satu hari untuk satu bagian saja dan tidak boleh ditunda untuk keesokan harinya karena bisa berakibat fatal untuk semua warga kampung. 

Ada tiga belas rumah adat yang saling berhadapan dan membentuk huruf U. Atapnya terbuat dari alang-alang yang diikatkan ke bambu sebagai bantalan menggunakan tali ijuk (Arenga pinnata). Tiang penyangga utamanya terbuat dari kayu nangka (Artocarpus heterophyllus) yang telah diwariskan turun-temurun. Tiap-tiap rumah adat ditempati oleh satu sampai tiga kepala keluarga. Akan tetapi, di saat upacara adat tiba, semua keluarga yang menetap di wilayah yang jauh akan berkumpul bersama untuk merayakannya. 

Foto: altar/mesbah yang terbuat dari batu-batuan vulkanik.

Di depan rumah adat, batu-batuan vulkanik dengan berbagai bentuk dan ukuran tersusun rapi membentuk segi empat sehingga menyerupai sebuah altar/mesbah. Tingginya tidak sampai semeter. Di bagian tengahnya terdapat batu lempeng yang digunakan untuk menyimpan sesajen. Tak hanya itu, batuan yang sama pun digunakan untuk menandai kuburan-kuburan tua yang berada di sekeliling kampung. Setiap rumah akan mendapatkan gilirannya masing-masing bila ada tamu yang memilih untuk menginap. Generator akan dihidupkan dengan batas waktu tertentu. Sehari-hari, warga masyarakat setempat menggunakan tenaga surya sebagai sumber penerangan. Di kampung Kawa, setiap pengunjung akan menemukan kedamaian. Bernostalgia tentang kehidupan. Tenggelam dalam cerita serta gelak tawa sebagai satu keluarga.

Secara administratif, kampung kawa terletak di desa Labolewa - Aesesa - Nagekeo - NTT. Kurang lebih ada sekitar lima puluhan orang yang mendiami kampung ini. Nenek moyang mereka berasal dari Keowoa - tiwu Lewu yang terletak di bagian utara pulau Flores. Kampung adat ini berada di ketinggian 682 m di atas permukaan laut. Kemiri, kelapa dan kayu putih (Eucalyptus Alba) adalah jenis pepohonan yang bisa dijumpai juga beberapa jenis pohon dan tumbuhan lainnya.

Suasana kampung Kawa membuat setiap pengunjung terbuai dengan keindahannya. Membuat kami terjebak dan lupa waktu. Jam menunjukkan pukul tiga lewat seperempat. Sebentar lagi matahari akan pamit menuju ke peraduannya. Kami harus segera pamit pulang. Mengucapkan salam perpisahan. Melanjutkan cerita-cerita yang tak kunjung usai. Melanjutkan perjalanan menuju ke puncak rindu pada orang-orang terkasih yang sudah menunggu di rumah. 


Kampung Kawa, 12 September 2023


Notes:

Visit our official website https://floresnaturetour.com for more information.

Explore and discover Komodo National Park and Flores with us and we will take you to the nature and its biodiversity.

We are ready to assist you and customize your itinerary that suits to your needs.







Comments

Popular posts from this blog

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Komodo Herping & Birding Report

Photo: Blue Lesser Sunda White-lipped Pitviper  Overview   Komodo National Park is not only popular because of Komodo Dragon as the only one living lizard in the world. Beside that, the island has at least 14 spesies of snakes which can be seen on Rinca, Padar and Komodo island and also more than 100 spesies of birds included Yellow-creasted Cockatoo and Flores Hawk Eagle which is categorised as critical endemic. Here is my trip report inSeptember, 09-11th 2024 during my herping and birding trip. Day 01: September 09th 2024 The weather was quite nice after the rain in the days before in Labuan Bajo. Unusually, there were only a few people in front of the arrival gate and a few airport officials in full uniform. On the screen, the flight route from Denpasar to Labuan Bajo was still on schedule before a melodious voice informed me that flight number 6331 had landed.  In front of the gate of Komodo Airport I waited for Alex & Sheilla - the guest who will be accompanied b...

Demi Si Kuning Trimeresurus Insularis

Foto: Yellow Trimeresurus insularis (James Adam) Suara tokek dan Celepuk Maluku mengiringi kegiatan herping kami pada malam itu. Kami masuk melalui sebuah jalan kecil yang biasa dilewati oleh orang-orang yang keluar masuk hutan sebagai jalan masuk. Cahaya senter yang digunakan seperti cahaya lampu-lampu di kelab malam. Bergerak ke sana ke mari menerangi setiap sisi. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Seminggu sebelumnya, Agus menelpon saya. Meminta kesediaan saya untuk menemani beliau bersama kedua orang tamu - Jo dan pacarnya - untuk herping. Jo sendiri pernah ke Labuan Bajo bersama rekan-rekannya untuk kegiatan yang sama tahun 2018 silam dan ditemani oleh Agus. Dan, ini adalah kunjungan keduanya Jo. Tetapi kali ini, target utamanya adalah si kuning Trimeresurus insularis .  Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami...