Skip to main content

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Menelusuri Mbeang Ledas Di Bawah Cahaya Rembulan

Foto: Signature spider/Argiope anasuja

Rembulan mulai menampakkan dirinya di arah timur. Suhu udara cukup dingin. Dalam kondisi yang belum fit sepenuhnya, saya berusaha untuk mengabaikannya. Saya menunggu Arjun dan rekannya di Karot untuk pergi ke Mbeang Ledas. Lokasi yang telah disepakati bersama untuk herping.

Sehari sebelumnya, mas Agus Agus Elang menelepon dan meminta kesediaan saya untuk temani Arjun herping di Ruteng. Saya pun menyetujuinya. Arjun adalah teman dari mas Agus, seorang mahasiswa herpetology yang saat ini kuliah di UK. Ketika Arjun tiba di Ruteng, ia langsung mengontak saya dan mengirimkan lokasi tempat ia menginap, Sunrise homestay. Saya kemudian menuju ke lokasi tersebut.

Setibanya di Sunrise homestay, Arjun menyambut saya dengan senyum bahagia. Ia memperkenalkan rekan seperjalanannya, Clara. Juga Marc & Loi. Saya pun mendiskusikan aktivitas yang akan dilakukan di sana. Mulai dari kondisi trek, waktu yang dihabiskan untuk herping, pakaian yang mesti digunakan dan lain sebagainya. Saya juga menjelaskan bahwa ini merupakan pengalaman pertama saya melakukan herping di Ruteng dan tidak bisa menjamin untuk bisa melihat ular. Setelah pembicaraan yang cukup alot, Arjun pun menyetujui untk herping mengingat waktu yang cukup mepet. Sebab, Ia dan kekasihnya mesti melanjutkan perjalanan menuju ke Bajawa keesokan harinya. Yang tak disangka, Marc & Loi juga tertarik untuk ikut kegiatan herping, kecuali Clara.

Sesampainya di Mbeang Ledas, kami memarkirkan kendaraan di tempat yang cukup aman. Suara binatang malam mulai bersahutan. Kami menyalakan senter kepala dan jarum jam tangan menunjukkan pukul 08.25 wita. Saya memimpin perjalanan. Mengarahkan senter ke semak-semak dan dahan pohon. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Setelah 5 menit perjalanan, Arjun menemukan sesuatu, seekor laba-laba dan siput juga seekor kupu-kupu berwana kuning. Ia pun menjelaskan kepada kami nama dan jenis dari keduanya. Sayangnya, saya lupa untuk mencatatnya. Setelah selesai diamati, kami melanjutkan penelusuran. Mengikuti jalan tani. 

Tak jauh dari situ, saya menemukan seekor Signature spider Argiope anasuja yang ukurannya cukup besar. Arjun dan temannya tampak senang. Mereka pun mengambil handphone untuk mengabadikannya. Setelah itu kami melanjutkan penelusuran. Memasuki kebun milik warga. Mengangkat sing bekas dan kayu lapuk yang ada di sekitar itu. Namun, tak ada hasil. Seekor kadal kecil yang lari memanjat pohon dan membuat Arjun kewalahan untuk mengidentifikasinya. Kemudian saya keluar dari jalur dan meminta mereka untuk menunggu sebentar. Saya pun menemukan seekor Katak Pohon Polypedates leucomystax dan seekor Stick Insect.

Setelah 30 menit kami menelusuri area itu, kami pun berpindah tempat. Kembali ke jalan yang telah dilewati agar bisa sampai ke danau. Tepat sebelum memasuki area persawahan, sepasang Opir Paruh Tebal Apalopteron crassirostre sedang menikmati mimpi indahnya di celah-celah daun Balakacida atau daun sensus. Mereka tampak senang setelah saya menunjukkan fotonya dari sebuah aplikasi E Bird. Dari sana, kami memeriksa tumpukan batu dan sebuah pondok yang letaknya tak jauh dari situ. Lagi-lagi tak ada seekor pun ular yang kami temukan. 

Kami harus berhati-hati dalam melangkah karena kondisi pematang sawah yang berlumpur di bawah cahaya rembulan yang kelihatan sempurna. Memasuki jalan kecil yang biasa dilewati oleh petani. Melewati jembatan bambu yang memisahkan kali kecil. Saya pun bergegas memeriksa di dahan kopi dan cokelat yang tumbuh di sekitar itu ketika sampai di seberang. Memeriksa area irigasi dan ranting bambu. Membolak-balikkan ranting kayu. Arjun pun keluar dari jalur dan memeriksa area sekitar, tetapi usaha itu pun tetap saja sia-sia. 

Suara Celepuk Maluku Otus magicus saling menimpali. Kami melanjutkan perjalanan. Kembali jalur yang ada. Di sebuah selokan kecil, Arjun menangkap seekor ikan kemudian mengamatinya. Ternyata itu adalah seekor ikan nila. Kami pun menyebar di sekitar kebun kopi yang ada di sana. Mencari dan terus mencari. Memasuki sebuah pondok kecil. Namun, tak ada hasil. Pencarian kami terhenti setelah saya berusaha mencari jalur agar bisa tiba di jalan tani di seberang, tetapi kami tersesat. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali melewati jalur yang sama. 

Bintang-bintang pun kelihatan sempurna menghiasi langit. Kami menikmatinya sekejap. Kemudian melanjutkan pencarian. Dari tempat kendaraan diparkir, kami terus mencari. Melewati jalan aspal. Saya berhenti sebentar untuk meneguk air. Lalu memasuki semak-semak yang ada di kiri-kanan. Arjun pun mengangkap seekor Katak sawah Fejervarya cancrivora. Menunjukkan & menjelaskannya kepada rekan-rekannya. Setelah itu, saya dan Arjun terus mencari. Memastikan tidak ada yang terlewati sampai akhirnya Arjun menuju ke arah saya dan meminta untuk menyudahi kegiatan herping. Sebab, teman-temannya sudah kelelahan juga karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 11.30 wita. Mereka harus beristirahat untuk melanjutkan perjalanan ke arah timur esok harinya.

Kami pun kembali ke tempat kendaraan diparkir. Mengucapkan terima kasih kepada Arjun dan teman-temanya atas kepercayaan mereka kepada saya juga meminta maaf karena belum berhasil menemukan seekor ular. Arjun memakluminya bahwa herping tidak serta merta melihat ular, spesies yang sudah dilihat sudah membuat ia dan teman-temannya senang dan bahagia. Setidaknya bagi mereka yang belum mengetahui tentang herping itu sendiri.   


Ruteng, Maret 2024


Visit our official website https://floresnaturetour.com for more information.

Explore and discover Komodo National Park and Flores with us and we will take you to the nature and its biodiversity.

We are ready to assist you and customize your itinerary that suits to your needs.




Comments

Popular posts from this blog

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Komodo Herping & Birding Report

Photo: Blue Lesser Sunda White-lipped Pitviper  Overview   Komodo National Park is not only popular because of Komodo Dragon as the only one living lizard in the world. Beside that, the island has at least 14 spesies of snakes which can be seen on Rinca, Padar and Komodo island and also more than 100 spesies of birds included Yellow-creasted Cockatoo and Flores Hawk Eagle which is categorised as critical endemic. Here is my trip report inSeptember, 09-11th 2024 during my herping and birding trip. Day 01: September 09th 2024 The weather was quite nice after the rain in the days before in Labuan Bajo. Unusually, there were only a few people in front of the arrival gate and a few airport officials in full uniform. On the screen, the flight route from Denpasar to Labuan Bajo was still on schedule before a melodious voice informed me that flight number 6331 had landed.  In front of the gate of Komodo Airport I waited for Alex & Sheilla - the guest who will be accompanied b...

Demi Si Kuning Trimeresurus Insularis

Foto: Yellow Trimeresurus insularis (James Adam) Suara tokek dan Celepuk Maluku mengiringi kegiatan herping kami pada malam itu. Kami masuk melalui sebuah jalan kecil yang biasa dilewati oleh orang-orang yang keluar masuk hutan sebagai jalan masuk. Cahaya senter yang digunakan seperti cahaya lampu-lampu di kelab malam. Bergerak ke sana ke mari menerangi setiap sisi. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Seminggu sebelumnya, Agus menelpon saya. Meminta kesediaan saya untuk menemani beliau bersama kedua orang tamu - Jo dan pacarnya - untuk herping. Jo sendiri pernah ke Labuan Bajo bersama rekan-rekannya untuk kegiatan yang sama tahun 2018 silam dan ditemani oleh Agus. Dan, ini adalah kunjungan keduanya Jo. Tetapi kali ini, target utamanya adalah si kuning Trimeresurus insularis .  Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami...