Skip to main content

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Cerita Birding #Part2

Sepah kerdil/Perycrocotus lansbergei (Foto: Alvin Ebot)


Birding di hari ke dua ini cukup mengesankan setelah berusaha melawan rasa kantuk karena pengaruh racing yang diteguk semalam (sebuah brand minuman lokal yang dikenal sebagai arak atau sopi dalam bahasa setempat). Saya bangun pukul 05.30 setelah alarm berdering tiga kali. Menepis rasa ngantuk untuk segera beranjak dari tempat tidur. Melipat selimut dan melakukan sedikit senam pagi. Sempat punya niat untk tidak pamit dengan pemilik rumah, tapi setelah dipikir-pikir tidak baik juga klau tidak pamit. Saya pun membangunkan Avelino. 

Saya berangkat dari rumahnya pukul 05.45 dan langsung menuju ke Golo Lusang. Beberapa orang saya jumpai sedang berjalan-jalan santai. Ada juga yang sedang membersihkan pekarangan rumah dan memungut sampah plastik yang ada di bahu jalan. Saya tiba di sana Pukul 06.00. Kabut masih mencium pucuk-pucuk pepohonan dengan gemilang fajar yang indah di balik puncak Poco Gurung. Belum ada kendaraan yang melintas. Bahkan mas penjual bakso pun belum kelihatan batang hidungnya. Saya mengeluarkan binocular dan mulai mengamati area sekitar. Sempat tergoda untuk berpindah tempat karena kicauan burung Kancilan Flores, Cekakak tunggir-putih, dan masih banyak spesies lainnya, tetapi dengan segera saya menepis niatan itu. 

Saya memilih tinggal di satu tempat untk memastikan berapa banyak spesies yang bisa diamati di lokasi itu. Saya pun berhasil mengamati dua spesies, yaitu: Cikrak Flores/Phylloscopus floresianus & Isap-madu topi-sisik/Sugemol lombokium. Walaupun ada spesies yang lain, tetapi hanya kicauannya yang terdengar. Tidak ada Sepah kerdil yang biasanya mampir di dahan pohon di lokasi tersebut. Setelah sejam di tempat itu, saya kemudian pindah ke lokasi yang lain. Mematikan mesin kendaraan motor untuk bisa mendengar kicauan burung. Tak jauh dari situ, saya berhenti karena mendengar kicauan Kancilan Flores/Pachycephala nudigula https://www.instagram.com/reels/audio/949246143378919/. Lalu masuk ke dalam hutan. Alhasil, saya bisa mengamatinya dari jarak yang sangat dekat.

Dari Golo Lusang, saya pun berpindah ke pos jaga BKSDA pukul 07.15. Perjalanan saya terhenti di area lapangan tembak (karena biasanya pihak Kepolisian & TNI menggunakan area ini untuk latihan menembak) karena melihat spesies yang baru pertama kali dilihat di situ. Saya mengamati setiap pergerakannya di kabel listrik selama 10 menit sebelum akhirnya terbang & berpindah tempat. Kemudian saya melanjutkan berkendara Kurang lebih 100m dari pos jaga, tepatnya di dekat area gedung yang tak lagi digunakan, saya melihat sepasang Decu Belang/Saxicola caprata yang sedang bertengger di kabel listrik juga Bondol peking/Lonchura punctulata, Bondol taruk/Lonchura molucca dan Isap-madu topi-sisik/Sugemol lombokium yang sedang menghisap nektar di pohon akasia (sebutan untuk Calliandra calothyrsus atau jenis kaliandra bunga merah).

Saya baru tiba di pos jaga BKSDA pukul 07.30. Memarkirkan kendaraan dan menuju ke gasebo yang ada situ. Lagi-lagi seekor Sikatan-kicau ayun/Eumyias oscillans mengejutkan saya. Seperti seorang tuan rumah menyapa tamu yang berkunjung. Jarak antara saya dengannya hanya lima meter. Mungkin juga sarangnya ada di sekitar area itu sehingga selama dua hari ini saya selalu bertemu dengannya. Jika saja kamera Canon 550D dengan lensa Tamron 75-300mm milik Avelino tidak dipinjam duluan oleh temannya, mungkin saya akan mendapatkan hasil foto yang cukup bagus. Setelah itu, muncul Cikrak Flores/Phylloscopus floresianus dan Kacamata gunung/Zosterops japonicus yang bertengger di pohon depan gazebo. Tak lama berselang Bondol peking/Lonchura punctulata dan Bondol taruk/Lonchura molucca ikut nongol di sana untuk membersihkan paruhnya di rerumputan.

Saya sempat membuka rekaman suara Flores Shortwing di dekat semak pohon sensus (sebutan untuk daun Balakacida atau nama ilmiahnya Chromolaena odorata) untk memancingnya keluar, tapi usaha itu sia-sia karena suaranya pun tak kedengaran. Mungkin saja karena tidak menggunakan speaker sehingga jangkauan rekamannya tidak terlalu jauh. Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya telah mencoba dari pada tidak melakukannya sama sekali. Beberapa penumpang laki-laki dari kendaraan roda empat berhenti di situ untk buang air kecil.

Saya menghabiskan waktu sejam di pos jaga untuk mengamati setiap pergerakan yang ada di sekitar area itu. Dua ekor kadal yang ukurannya cukup besar sedang berkelahi memperebutkan makanan. Mengalihkan perhatian. Saya pun mengamatinya menggunakan teropong sebelum akhirnya memilih untuk kembali ke rumah pukul 08.30 setelah perut saya meraung-raung meminta sesuatu untuk diisi. 


Golo Lusang, 03 Maret 2024







Comments

Popular posts from this blog

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Komodo Herping & Birding Report

Photo: Blue Lesser Sunda White-lipped Pitviper  Overview   Komodo National Park is not only popular because of Komodo Dragon as the only one living lizard in the world. Beside that, the island has at least 14 spesies of snakes which can be seen on Rinca, Padar and Komodo island and also more than 100 spesies of birds included Yellow-creasted Cockatoo and Flores Hawk Eagle which is categorised as critical endemic. Here is my trip report inSeptember, 09-11th 2024 during my herping and birding trip. Day 01: September 09th 2024 The weather was quite nice after the rain in the days before in Labuan Bajo. Unusually, there were only a few people in front of the arrival gate and a few airport officials in full uniform. On the screen, the flight route from Denpasar to Labuan Bajo was still on schedule before a melodious voice informed me that flight number 6331 had landed.  In front of the gate of Komodo Airport I waited for Alex & Sheilla - the guest who will be accompanied b...

Demi Si Kuning Trimeresurus Insularis

Foto: Yellow Trimeresurus insularis (James Adam) Suara tokek dan Celepuk Maluku mengiringi kegiatan herping kami pada malam itu. Kami masuk melalui sebuah jalan kecil yang biasa dilewati oleh orang-orang yang keluar masuk hutan sebagai jalan masuk. Cahaya senter yang digunakan seperti cahaya lampu-lampu di kelab malam. Bergerak ke sana ke mari menerangi setiap sisi. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Seminggu sebelumnya, Agus menelpon saya. Meminta kesediaan saya untuk menemani beliau bersama kedua orang tamu - Jo dan pacarnya - untuk herping. Jo sendiri pernah ke Labuan Bajo bersama rekan-rekannya untuk kegiatan yang sama tahun 2018 silam dan ditemani oleh Agus. Dan, ini adalah kunjungan keduanya Jo. Tetapi kali ini, target utamanya adalah si kuning Trimeresurus insularis .  Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami...