Skip to main content

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Cerita Birding #Part4

Seriwang nusa-tenggara/Terpsiphone floris (jantan)


Semalam saya tidak menyetel alarm karena mencoba untuk tidak dibangunkan olehnya. Alasannya sederhana yaitu melatih kebiasaan bangun pagi. Hasilnya, saya tersadar dan sempat bangun pukul 05.09. Setelah itu saya kembali meraih selimut. Melanjutkan mimpi di atas kasur hingga tersadar kembali pukul 06.30. Dengan terburu-buru, saya beranjak dari sana. Melakukan rutinitas seperti biasanya sebelum menuju ke hutan untuk melakukan birding di hari yang keempat.

Saya berangkat dari rumah menuju ke Woang pukul 06.40 untuk menjemput kerabat saya, Avelino. Sepanjang jalan, banyak anak sekolah dan pegawai kantoran yang saya jumpai. Juga beberapa petugas kebersihan di sekitar kantor bupati. Maklum, hari ini adalah hari senin. Satu-dua toko pun sudah mulai dibuka. Saya dan Avellino berangkat dari Woang menuju ke Golo Lusang pukul 07.15. Sempat singgah sebentar di kios depan Agape untuk membeli sebungkus rokok Arrow. Dari sana, kami pun melajukan kendaraan. Menahan hawa dingin kota Ruteng. Sepanjang jalan, ada banyak hal yang kami perbincangkan. Ha, hi, oh adalah kata-kata yang sering terdengar seakan-akan memahami topik. Nyatanya, tak ada satupun diantara kami yang memahami topik perbincangan tersebut setelah Avelino mengulang kembali pembicaraan tersebut saat tiba di Golo Lusang. Kami tiba di sana pukul 07.25.

Kicauan Kancilan Flores/Pachycephala nudigula menyambut kedatangan kami. Mas penjual bakso sedang memasang terpal di tenda kecil yang berukuran 2x3m. Sepertinya ia tiba lebih awal dari kami berdua. Pemandangan ke arah selatan dengan langit cerah membuat Avelino langsung mengambil kesempatan tersebut untk berfoto. Saya mengambil teropong dan mulai mengamati sekitar. Sepasang Cikrak flores/ terbang satu dahan ke dahan yang lain di pohon pakis. Juga Walet tenggara yang memamerkan kehebatan terbangnya. Satu dua kendaraan roda dua dan roda empat dari arah Iteng -Ruteng maupun arah sebaliknya sudah mulai bermunculan. Ada yang berhenti di sana untuk menikmati semangkuk bakso panas dan ada juga yang berhenti untuk beristirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan. 

Saya dan Avelino menghabiskan waktu 30 menit di Golo Lusang sebelum memutuskan untuk berpindah tempat. Perlahan-lahan sinar matahari terhalang oleh kabut yang memeluk poco Gurung. Kami berkendara dengan santai sambil mengambil video di sekitar menggunakan GoPro Hero 7. Sepasang Decu belang/Saxicola caprata sedang bermalas-malasan di kabel listrik. Avelino pun meminjam teropong dari saya untuk mengamatinya. Dari sana, kami pun bergegas menuju ke pos jaga BKSDA untuk mengidentifikasi spesies yang lain. Namun, hanya kicauan dari Sunda Brush Cuckoo, Russet-capped Tesia dan Flores Shortwing yang terdengar. Sya pun mengambil handphone. Memutar rekaman untuk mencoba memancing Flores shortwing, tetapi usaha itu tidak sia-sia karena saya berhasil mengamatinya walau hanya sebentar ketika burungnya mengetahui keberadaan saya. 

Ketika melakukan pengamatan di sekitar area pos, saya menyadari ada sesuatu yang bergerak di kaki. Dan ternyata dua pacet sudah sedari tadi melakukan aksinya secara diam-diam. Dengan segera saya menyingkirkannya. Kami berdiam di situ selama 30 menit sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali pukul 08.30 karena ada agenda kerja lain yang mesti diselesaikan dengan segera. 



Golo Lusang, 04 Maret 2024



Comments

Popular posts from this blog

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Komodo Herping & Birding Report

Photo: Blue Lesser Sunda White-lipped Pitviper  Overview   Komodo National Park is not only popular because of Komodo Dragon as the only one living lizard in the world. Beside that, the island has at least 14 spesies of snakes which can be seen on Rinca, Padar and Komodo island and also more than 100 spesies of birds included Yellow-creasted Cockatoo and Flores Hawk Eagle which is categorised as critical endemic. Here is my trip report inSeptember, 09-11th 2024 during my herping and birding trip. Day 01: September 09th 2024 The weather was quite nice after the rain in the days before in Labuan Bajo. Unusually, there were only a few people in front of the arrival gate and a few airport officials in full uniform. On the screen, the flight route from Denpasar to Labuan Bajo was still on schedule before a melodious voice informed me that flight number 6331 had landed.  In front of the gate of Komodo Airport I waited for Alex & Sheilla - the guest who will be accompanied b...

Demi Si Kuning Trimeresurus Insularis

Foto: Yellow Trimeresurus insularis (James Adam) Suara tokek dan Celepuk Maluku mengiringi kegiatan herping kami pada malam itu. Kami masuk melalui sebuah jalan kecil yang biasa dilewati oleh orang-orang yang keluar masuk hutan sebagai jalan masuk. Cahaya senter yang digunakan seperti cahaya lampu-lampu di kelab malam. Bergerak ke sana ke mari menerangi setiap sisi. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Seminggu sebelumnya, Agus menelpon saya. Meminta kesediaan saya untuk menemani beliau bersama kedua orang tamu - Jo dan pacarnya - untuk herping. Jo sendiri pernah ke Labuan Bajo bersama rekan-rekannya untuk kegiatan yang sama tahun 2018 silam dan ditemani oleh Agus. Dan, ini adalah kunjungan keduanya Jo. Tetapi kali ini, target utamanya adalah si kuning Trimeresurus insularis .  Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami...