Skip to main content

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Cerita Birding #Part5

Kipasan flores/Rhipidura diluta 

Saya tersadar pukul 05.25 dari tidur panjang semalam. Melirik layar ponsel dan kemudian menyimpannya kembali. Sempat berpikir untuk beranjak dari kasur. Namun, godaannya ditambah dinginnya udara kota Ruteng membuat saya kembali ke sana. Saya pun tersadar kembali setelah mendengar pintu terbuka dan mendengar suara riuh dari orang-orang rumah yang hendak berangkat ke sekolah. Sempat terlintas dalam benak untuk menyudahi saja kegiatan birding di hari kelima ini, tetapi setelah dipertimbangkan, saya mengurungkan niat itu karena apa yang telah menjadi komitmen mesti dituntaskan. Saya berusaha melawannya dan segera bangkit dari tempat tidur. Lalu melakukan pekerjaan seperti biasanya. 

Saya meraih helm dan bergegas meninggalkan rumah pukul 07.02 menuju ke Mbeang Ledas. Pemandangan yang sama selalu tersaji di pagi hari yang indah. Terutama ketika melihat mahasiswa cantik yang bergegas menuju kampus. Anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) pun tak luput dari penglihatan. Mereka berlarian menuju ke pintu gerbang sekolah sebelum ditutup oleh penjaga. Saya melanjutkan berkendara. Meninggalkan segala hiruk-pikuk yang saya jumpai di sepanjang jalan. 

Saya masuk ke sebuah jalan kecil menuju area persawahan di Mbeang Ledas untuk memarkirkan kendaraan. Saya mengambil handphone dan mengaturnya dalam mode senyap. Embun masih menempel di dedaunan ketika sya tiba di sana pukul 07.15. Kicauan dari burung-burung pun seperti sedang mengikuti perlombaan dan belum ada satupun kendaraan atau manusia yang lewat di jalur itu. Saya pun mengambil teropong dan mulai mengamati. 

Ada lebih dari lima ekor Kacamata laut/Zosterops chloris yang sedang asyik berkicau di sebuah dahan pohon. Kemudian sepasang Bondol peking/Lonchura punctulata juga nongol di sana. Setelah itu, saya pun mengarahkan teropong ke dahan pohon yang lain. Tepat ketika saya mengarahkannya di dahan pohon yang tak jauh dari situ, seekor Seriwang nusa-tenggara/Terpsiphone floris betina hinggap di dahan tersebut. Saya melakukan pengamatan di tempat itu selama satu jam. Hanya kicauan yang terdengar dari Sunda Brush Cuckoo, Tenggara Whistler, White-rumped Kingfisher, Ellegant Pitta, Green dan Jungle fowl.

Saya mencoba berpindah tempat dari lokasi yang pertama setelah tidak puas dengan jumlah spesies yang sudah diamati di lokasi tersebut. Saya berjalan dalam diam dengan cahaya mentari yang muncul dari sela-sela daun. Nyamuk terus saja mengikuti seperti sedang mengiringi seorang raja. Setelah melakukan scanning beberapakali menggunakan teropong, saya tidak melihat seekor pun Kipasan flores dan Sepah kerdil yang biasanya nongol di sebuah dahan pohon yang biasanya saya amati. Mungkin saja hari ini bukan hari keberuntungan bagi saya. Setelah 45 menit diam di situ dengan rasa kecewa dan putus asa. Saya memutuskan untuk kembali ke tempat saya memarkirkan kendaraan. Pada saat yang sama pun, saya melihat ada pergerakan di sebuah dahan pohon. Saya mengarahkan teropong dan sepasang Cinereous Tit, Flame-breasted Sunbird, Black-fronted Flowerpecker, dan Crested Heleia sedang memakan sesuatu di dahan pohon tersebut. Saya mengamatinya selama 30 menit.

Rasa lapar yang muncul secara tiba-tiba mengalihkan perhatian dan mengganggu konsentrasi. Akhirnya, saya pun memilih menyudahi kegiatan pengamatan dan bergegas untuk kembali ke rumah.


Mbeang Ledas, 05 Maret 2024




Comments

Popular posts from this blog

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Komodo Herping & Birding Report

Photo: Blue Lesser Sunda White-lipped Pitviper  Overview   Komodo National Park is not only popular because of Komodo Dragon as the only one living lizard in the world. Beside that, the island has at least 14 spesies of snakes which can be seen on Rinca, Padar and Komodo island and also more than 100 spesies of birds included Yellow-creasted Cockatoo and Flores Hawk Eagle which is categorised as critical endemic. Here is my trip report inSeptember, 09-11th 2024 during my herping and birding trip. Day 01: September 09th 2024 The weather was quite nice after the rain in the days before in Labuan Bajo. Unusually, there were only a few people in front of the arrival gate and a few airport officials in full uniform. On the screen, the flight route from Denpasar to Labuan Bajo was still on schedule before a melodious voice informed me that flight number 6331 had landed.  In front of the gate of Komodo Airport I waited for Alex & Sheilla - the guest who will be accompanied b...

Demi Si Kuning Trimeresurus Insularis

Foto: Yellow Trimeresurus insularis (James Adam) Suara tokek dan Celepuk Maluku mengiringi kegiatan herping kami pada malam itu. Kami masuk melalui sebuah jalan kecil yang biasa dilewati oleh orang-orang yang keluar masuk hutan sebagai jalan masuk. Cahaya senter yang digunakan seperti cahaya lampu-lampu di kelab malam. Bergerak ke sana ke mari menerangi setiap sisi. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Seminggu sebelumnya, Agus menelpon saya. Meminta kesediaan saya untuk menemani beliau bersama kedua orang tamu - Jo dan pacarnya - untuk herping. Jo sendiri pernah ke Labuan Bajo bersama rekan-rekannya untuk kegiatan yang sama tahun 2018 silam dan ditemani oleh Agus. Dan, ini adalah kunjungan keduanya Jo. Tetapi kali ini, target utamanya adalah si kuning Trimeresurus insularis .  Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami...