Pohon-pohon liar beserta akarnya tumbuh menjalar menghiasi pintu masuk gua. Tiga ekor Trimeresurus insularis sedari tadi menanti kedatangan kami, seperti satpam yang sedang berjaga-jaga. Satunya berada tepat di atas mulut gua dan dua lainnya berada di bagian kiri pintu masuk. Cahaya mentari hanya sampai di depan mulut gua. Sisanya gelap gulita. Air yang tercampur kotoran kelelawar dan berlumpur terus mengalir dari dalam. Di depan pintu masuk, Bapak Hanes Agat - salah seorang yang dituakan di kampung Weto - mengambil posisi jongkok sambil menggenggam sebutir telur. Meminta kami berempat untuk maju selangkah. Lalu ia merapalkan doa-doanya. Memohon izin kepada penghuni istana ular. Kemudian meletakkan telur itu di sebatang kayu yang ditancapkan di depan mulut gua.
Istana ular tidak seperti gua-gua lainnya yang pernah saya datangi. Auranya berbeda. Seperti ada sesuatu yang tak dapat dijangkau dan dilihat. Setahun yang lalu, Sten - pemandu lokal yang membantu kami untuk sampai di istana ular - menceritakan bahwa ketika ia dan tamunya berkunjung ke sana dan masuk tanpa izin (ritual adat), mereka tidak melihat seekor ular pun. Cerita lainnya dari warga lokal yang ikut bersama kami bahwa ada pengunjung yang pernah digigit oleh ular Pyton karena masuk tanpa izin pula. Mungkin itu juga salah satu alasan utamanya mengapa ritual adat itu harus dilaksanakan demi menghindari hal-hal buruk yang tidak dinginkan terjadi. Seperti bunyi sebuah adagium di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Menurut informasi dari warga lokal, para pengunjung diperbolehkan untuk pergi ke sana pada hari apapun, terkecuali hari jum'at yang dipercaya sebagai pemali.
Istana ular memang sudah menjadi salah satu daftar obyek wisata yang ingin saya kunjungi. Untungnya, Agus Elang, Zack dan Josh mengajak saya untuk pergi ke sana. Zack & Josh berasal dari Australia dan sangat menyukai reptil. Tujuan kami ke istana ular ialah untuk melihat Sanca kembang Malayopython reticulatus. Kami berangkat dari Labuan Bajo menuju ke kampung Weto menggunakan mobi Innova dengan waktu tempuh 3 jam. Kondisi jalan dari kampung Galang menuju ke kampung Weto yang merupakan perkampungan terakhir terbilang cukup parah. Untungnya, skill berkendara dari om Frans tak diragukan lagi. Sten pun meminta bantuan warga lokal yang ada di sana untuk ikut bersama kami. Dari kampung Weto, kami mesti berkendara lagi selama 8 menit untuk sampai di tempat parkir istana ular. Melewati jalan aspal yang digunakan sebagai jalan tani untuk mengambil hasil bumi seperti kemiri.
Bangunan yang sudah usang dan dikelilingi oleh semak belukar dibiarkan begitu saja. Pun tak ada petugas yang berjaga di sana. Dari area parkir, kami harus berjalan kaki sejauh +4 km. Berjalan menurun mengikuti +100-an anak tangga yang terbuat dari semen. Jarak dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya sekitar 30-60 cm. Sisanya terbuat dari papan kayu yang sudah termakan usia. Kondisi trek ini memang tidak disarankan bagi para pengunjung yang berusia di atas 60-an tahun (tergantung dari kondisi fisik) dan atau bagi mereka yang memiliki masalah lutut/radang sendi.
Kami berempat mesti membuka sepatu dan menggulung celana panjang sebelum masuk ke dalam istana ular setelah ritual adat telah selesai dilakukan. Kemudian mengambil senter untuk dinyalakan. Melangkah dengan penuh kehati-hatian karena permukaan batu yang licin. Ada 9 orang warga lokal yang juga ikut masuk ke dalam dengan menggunakan senter handphone, termasuk bapak Hanes. Tak jauh dari mulut gua yang jaraknya sekitar 5 meter, kami berhasil melihat seekor ular tikus Sunda Coelognathus subradiatus yang sedang menunggu kelelawar di dalam sebuah lubang. Ukurannya cukup besar.
![]() |
| Foto: Ular Tikus Sunda/Coelognathus subradiatus. |
Di dalam gua, ada ratusan bahkan mungkin ribuan kelelawar yang menjadi sumber makanan bagi si pyton dan ular lainnya. Sebagian dari kelelawar itu terbang berputar-putar di atas kepala. Sebagiannya lagi menggantung lalu kemudian jatuh ke dalam air. Ada pula yang terperangkap di lubang-lubang kecil yang ada di dalam gua. Hujan air seni dan guano yang terus turun tak dapat dihindari. Untungnya, saya memakai topi. Genangan air yang berlumpur di dalam gua setinggi lutut orang dewasa. Jika bergeser sedikit saja ke bagian kiri, maka air itu setinggi pinggang.
Di bagian kiri yang jaraknya sekitar 15 meter dari mulut gua, seekor ular pyton seukuran betis sedang menengadah ke atas. Memangsa kelelawar yang menggantung di langit-langit gua. Kemudian masuk kembali ke dalam sebuah lubang untuk bersembunyi. Zac & Josh kehilangan momen indah ini. Sebab, mereka baru saja keluar dari gua karena tidak dapat menahan napas juga kaki yang terasa sakit tanpa alas kaki. Hanya Josh yang masuk kembali dengan kain penutup mulut dan sepatu yang diikhlaskan untuk basah. Sedangkan Zack mesti menunggu di luar karena alergi dengan kelelawar. Sementara itu, seekor ular pyton lainnya dengan warna yang sangat cerah dan berukuran sebesar lengan saya sedang memakan kelelawar yaang baru saja terjebak di dalam lubang di samping kanan kami. Hanya sepersekian detik kelelawar itu sudah masuk ke dalam mulut si pyton. Tak jauh dari sana, seekor ular pyton lainnya pun melakukan hal serupa.
Setelah +20 meter ke dalam, kami semua memutuskan untuk keluar dari dalam gua karena udara yang cukup panas dan juga aroma kotoran kelelawar yang semakin menyengat. Di sela-sela obrolan, saya dan Agus pun meminta izin dan bertanya ke bapak Hanes untuk membawa si pyton ke depan mulut gua untuk difoto. Setelah mendapat persetujuan, Josh, Agus dan saya pun masuk kembali ke dalam untuk mengambilnya, tetapi dengan persyaratan tidak boleh membawanya ke luar dari pintu masuk gua.
Butuh kesabaran dan kehati-hatian bagi Josh untuk menariknya keluar dari dalam lubang sebab ia tidak mau menyakiti ularnya yang kemudian membuat si pyton stres. Akhirnya, setelah usaha yang cukup memakan waktu, si pyton pun berhasil ditaklukkan. Warga lokal yang ikut bersama kami pun terheran-heran ketika melihat si pyton berhasil dibawa ke depan mulut gua. Sebab, mereka tidak yakin dengan keberanian kami sebelumnya. Kami pun bergantian mengambil foto dan video dengan si pyton.
Setelah sesi foto selesai, saya dan Agus kemudian membawa si pyton kembali ke tempatnya semula. Kemudian kami semua beristirahat sebentar untuk membersihkan kaki di aliran air sungai yang ada di depan gua. Mengisap sebatang rokok dan menghabiskan cemilan yang kami bawa serta sebelum beranjak pergi. Sten pun mengundang kami berempat untuk mampir sebentar di kampungnya untk mencicipi kelapa muda sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Labuan Bajo. Bagi Josh and Zack, perjalanan ini bukan saja tentang si Malayopython reticulatus, tetapi lebih dari itu ialah tentang sebuah petualangan yang penuh makna yang tak pernah terbayangkan. Lost together in wildlife adventure adalah moto yang kami namakan dalam expedisi ini. Kami meninggalkan istana ular yang berlumpur dan bercampur dengan guano dengan wajah yang ceria.
Visit our official website https://floresnaturetour.com for more information.
We are ready to assist you and customize your itinerary that suits to your needs.


Comments