Skip to main content

Cerita Birding #Part1

Burung-gereja erasia/Passer montanus (Foto: Avelino) Cerita Birding #Part1 Pagi ini saya bangun terlambat setelah mematikan alarm yang berdering pukul 06.00. Lalu melanjutkan mimpi di atas kasur. Sejam kemudian, saya bangun kembali dan melirik ponsel. Waktu menunjukkan pukul 07.15 dan saya pun bergegas merapikan tempat tidur. Menuju ke dapur untuk minum segelas air hangat. Kemudian mencuci muka, memanaskan mesin motor & menyiapkan perlengkapan birding (teropong & buku).  Tepat pukul 07.40, saya berangkat dari rumah dan langsung menuju ke Wae Ces. Setelah berkendara 5 menit dari rumah, saya menyadari dompet saya tertinggal. Saya pun memutuskan kembali ke rumah untuk mengambilnya sebagai antisipasi jika ada masalah dengan motor dalam perjalanan. Saya tiba di Wae Ces, tepatnya pos penjagaan BKSDA pukul 08.00. Lalu memarkirkan kendaraan di tempat yang aman. Dengan segera, saya mengambil binocular dari dalam tas untuk melihat burung yang sedang berkicau. Beberapa pengendara roda...

Mencari Ular Biru & Piton Timor di Habitat Alaminya



Foto: Ular biru/Trimeresurus insularis di Taman Nasional Komodo.

Mencari Ular Biru & Piton Timor di Habitat Alaminya


Gambaran Umum

Taman Nasional Komodo merupakan salah satu destinasi satwa liar paling ikonik di Indonesia sekaligus Situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di Kepulauan Sunda Kecil. Meskipun kawasan ini terkenal sebagai habitat dan benteng perlindungan Komodo Varanus komodoensis, taman nasional ini juga merupakan hotspot keanekaragaman hayati bagi reptil dan amfibi, menjadikannya salah satu destinasi herping terbaik di Indonesia.

Hutan musim yang kering, savana yang luas, habitat pesisir, serta pulau-pulau berbukit di Taman Nasional Komodo menyediakan kondisi ideal bagi beragam satwa liar, termasuk sejumlah spesies endemik Kepulauan Sunda Kecil. Reptil yang paling dicari oleh para herper adalah Ular Biru Trimeresurus insularis atau Ular Hijau Ekor Merah yang menakjubkan serta Sanca Timor Malayopython timoriensis yang cukup sulit ditemukan. Kedua spesies unggulan ini menjadi daya tarik utama bagi herper dan fotografer satwa liar dari berbagai penjuru dunia.

Laporan perjalanan ini mengulas keberhasilan Komodo Herping Tour selama tiga hari, di mana kami berhasil menjumpai kedua reptil ikonik tersebut, bersama sejumlah Komodo dan berbagai satwa liar menarik lainnya di Taman Nasional Komodo.

Hari 01: Mencari Ular Biru di Pulau Padar

Foto: Pemandangan sore hari dari puncak pulau Padar, Taman Nasional Komodo.

Ekspedisi kami dimulai dari Labuan Bajo yang merupakan salah satu pintu masuk untuk melihat Komodo di habitatnya. Terletak di ujung barat pulau Flores, menjadikan kota ini sebagai salah kota terbaik untuk melihat sunset di Indonesia. Ashlyn, seorang solo traveler asal Amerika Serikat, menjadi tamu yang saya dampingi dalam perjalanan ini. Setelah penjelasan singkat mengenai program tur selama tiga hari ke depan, kapten mulai menggerakkan kapal, meninggalkan dermaga dan membawa kami menuju petualangan di perairan Taman Nasional Komodo menggunakan perahu kayu yang melaju dengan kecepatan sekitar 4–6 knot. 

Tujuan pertama kami adalah Pulau Padar.  Pulau ini merupakan pulau terbesar ketiga di kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Lanskap savana yang berpadu dengan perbukitan vulkanik yang menyerupai Jurassic Park menjadikannya salah satu destinasi wisata terbaik versi Time Out tahun 2025. Pulau ini juga terkenal dengan panorama tiga teluk ikonik yang memiliki warna pasir berbeda—putih, hitam, dan merah muda yang berpadu dengan hijau toska air laut. Juga merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati matahari terbit maupun terbenam.

Perjalanan menuju pulau Padar memakan waktu sekitar tiga setengah jam. Sesekali mesin kapal mengeluarkan kepulan asap saat harus melawan arus laut yang cukup kuat, menguji keahlian sang kapten dalam menavigasi kapal. Selain keindahan panoramanya, Pulau Padar juga merupakan habitat yang sangat baik bagi Ular Biru Trimeresurus insularis, salah satu spesies ular paling ikonik di Kepulauan Sunda Kecil. 

Setelah makan malam, tepat pukul 19.05 WITA, kami mulai menyusuri semak-semak di dekat pantai. Malam itu kondisi tampak ideal untuk mencari Ular Biru Trimeresurus insularis. Udara terasa hangat, angin relatif tenang, dan vegetasi pesisir masih menyimpan kelembapan yang cukup. Hanya dalam waktu sekitar satu menit sejak memulai pencarian, kami berhasil menemukan seekor Ular Biru betina berukuran sedang yang sedang berdiam menunggu mangsa di antara ranting semak. Kami menghabiskan hampir dua jam untuk mengamati dan memotretnya.

Pencarian kemudian dilanjutkan dan menghasilkan tiga individu lain dari spesies yang sama. Menariknya, ketiga individu tersebut memiliki warna hijau cerah dan terlihat jauh lebih aktif. Perjumpaan luar biasa pada malam pertama ini menjadi awal yang sangat menjanjikan bagi ekspedisi kami sebelum kembali ke kapal untuk beristirahat.

Hari 02: Mencari Komodo dan Sanca Timor

Foto: Kadal Sunda Leher Hitam/ Sphenomorphus melanopogon di Taman Nasional Komodo.

Keesokan paginya, pukul 05.05 WITA, kami mendaki menuju puncak Pulau Padar untuk menikmati salah satu panorama matahari terbit paling menakjubkan di Indonesia. Hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit bagi kami untuk mencapai puncak sambil tetap memperhatikan kemungkinan menemukan reptil di sepanjang jalur pendakian.

Selama pendakian, kami berhasil menemukan Cecak Rumah Hemidactylus frenatus dan Kadal Sunda Leher Hitam Sphenomorphus melanopogon.

Setelah menikmati pemandangan spektakuler dari atas bukit, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Komodo untuk mencari kadal terbesar yang masih hidup di dunia, yaitu Komodo.

Seekor Komodo muda berusia sekitar tujuh tahun menyambut kedatangan kami di dekat pantai Loh Liang. Loh Liang merupakan salah satu pintu masuk utama di pulau Komodo selain Kampung Komodo. Individu tersebut tampak sedang mengendus-endus sesuatu di sekitar tenda milik warga lokal yang berjualan di sana. Setelah penjelasan singkat dari pemandu lokal, kami kemudian memutuskan untuk mengambil jalur medium trek dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.

Foto: Rusa Timor/Rusa timorensis di Taman Nasional Komodo.

Di dalam hutan asam, kami kembali menjumpai seekor Komodo muda yang aktif bergerak. Hutan asam merupakan salah satu area berburu penting bagi Komodo karena menjadi sumber air bagi mangsanya seperti Rusa timor Rusa timorensis serta satwa lainnya selama musim kemarau. Selain Komodo dan Rusa timor, kami juga mengamati Babi bergaris atau lebih dikenal sebagai Babi celeng Sus scrofa vittatus dan Ayam-hutan hijau Gallus varius.

Di persimpangan antara medium trek dan long trek, beberapa pemandu lokal menginformasikan bahwa terdapat dua Komodo di jalur long trek. Kami pun memutuskan mengubah rute. Kedua individu tersebut sedang beristirahat di bawah naungan pohon di antara semak belukar untuk menghindari terik matahari. Sayangnya, posisi mereka cukup sulit untuk dipotret.

Foto: Kakatua jambul-kuning/Cacatua sulphurea di Taman Nasional Komodo.

Dalam perjalanan kembali, dua Komodo lainnya ditemukan sedang beristirahat di dekat pantai, memberikan kesempatan fotografi yang sangat baik bagi Ashlyn. Selain itu, kami juga mengamati lima Pergam laut Ducula bicolor, tiga Pergam hijau Ducula aenea, seekor Gosong Kaki Merah Megapodius reinwardt, Cekakak sungai Todiramphus chloris, Gagak kampung Corvus macrorhynchos, dan seekor Burung-madu kelapa Cinnyris jugularis.

Destinasi berikut yang dituju pada hari itu adalah Pantai Merah atau Pink Beach. Kami menghabiskan sekitar satu jam untuk bersantai dan berenang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kampung Rinca.

Kampung Rinca merupakan salah satu dari tiga permukiman yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Sekitar 2.000 jiwa tinggal di kampung ini dan sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Kami tiba di sana pada pukul 16.00 WITA dan langsung berjalan menyusuri kampung untuk mengamati aktivitas masyarakat lokal serta mencari kemungkinan kemunculan Komodo yang terkadang terlihat di sekitar pemukiman.

Beberapa spesies burung yang berhasil kami amati di kampung Rinca, diantaranya: Kakatua jambul-kuning Cacatua sulphurea, Elang bondol Haliastur indus, Tekukur biasa Spilopelia chinensis, dan Perkutut Loreng Geopelia maugeus. 

Menjelang sore, kami melanjutkan pelayaran menuju Pulau Koabe, rumah bagi puluhan ribu Kalong Besar Pteropus vampyrus. Menyaksikan ribuan kelelawar raksasa keluar dari pulau saat matahari terbenam menjadi pengalaman yang luar biasa.

Foto: Sanca timor/Malayopython timoriensis di Taman Nasional Komodo.

Setelah makan malam pada pukul 19.30 WITA, kami memulai ekspedisi malam kedua menuju Gua Kalong untuk mencari Sanca Timor Malayopython timoriensis. Ditemani Gunardi, seorang ranger Taman Nasional Komodo, kami menyisir area di dalam dan sekitar gua.

Setelah lebih dari satu jam menyisir area berbatu di sekitar Gua Kalong tanpa hasil, harapan mulai menurun. Namun pada pukul 21.30 WITA, sorotan senter saya tiba-tiba berhenti pada seekor ular melingkar yang sedang menunggu mangsa di dekat mulut gua. Target utama malam itu akhirnya ditemukan—seekor Sanca Timor Malayopython timoriensis. Sebagai salah satu spesies endemik Kepulauan Sunda Kecil, Sanca Timor merupakan target utama bagi banyak herper dan fotografer satwa liar. 

Selain Sanca Timor, kami juga menemukan Cecak Batu Darmandville Cyrtodactylus Darmadi serta Kalacemeti Phrynus exsul, dua spesies menarik yang menambah daftar satwa malam kami.

Dalam perjalanan kembali menuju kapal, kejutan lain menanti kami. Di bawah sebuah perahu kayu yang rusak di tepi pantai, kami menemukan seekor Ular Air Berwajah Anjing atau Ular Tambak Cerberus schneiderii yang sedang aktif berburu di perairan dangkal. Tidak jauh dari sana, seekor Tokek Gekko gecko terlihat menunggu mangsa di dinding pagar sekolah.

Mengamati berbagai spesies tersebut dalam perilaku alaminya menjadi salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang perjalanan.

Hari 03: Adventure Trek di Pulau Rinca

Foto: seekor Komodo jantan di Loh Buaya, pulau Rinca - Taman Nasional Komodo.

Meskipun target utama ekspedisi telah berhasil ditemukan pada malam sebelumnya, kami masih memiliki satu hari penuh untuk menikmati kekayaan satwa liar Taman Nasional Komodo. Untuk itu, kami memutuskan mengambil adventure trek di Pulau Rinca demi meningkatkan peluang bertemu lebih banyak Komodo, salah satu lokasi terbaik untuk mengamati Komodo di habitat alaminya.

Setelah sarapan, kami turun dari kapal pada pukul 07.05 WITA dan menuju area tiket sebelum memulai perjalanan. Dari elevated wooden trail setinggi sekitar 2 meter, kami melihat seekor Komodo jantan sedang berjemur di area tambak garam yang telah mengering.

Karena jumlah pengunjung cukup banyak pagi itu, kami bergabung dengan tiga tamu lainnya yang mengambil jalur trekking yang sama. Setelah briefing singkat dari Mu'is, seorang naturalist guide, kami mulai menyusuri hutan dan segera menjumpai dua Komodo di sekitar area awal trek.

Foto: kulit ular Kobra Penyembur Jawa/Naja sputatrix di Taman Nasional Komodo.

Sekitar 500 meter memasuki jalur, kami menemukan sisa kulit hasil pergantian kulit Ular Kobra Penyembur Jawa Naja sputatrix yang sudah cukup tua.

Kicauan burung menemani langkah kami melewati hutan lontar, menyeberangi aliran sungai kecil yang masih menyimpan air dari musim hujan, serta beberapa mata air yang tetap bertahan selama musim kemarau.

Setibanya di Wae Waso, salah satu area berburu penting bagi Komodo, kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju hamparan savana yang terbuka.

Foto: Pemandangan Padang savana di Loh Buaya, pulau Rinca - Taman Nasional Komodo.

Terik matahari pagi terasa seperti menjelang tengah hari ketika kami tiba di padang savana. Tiba-tiba seekor Komodo jantan berukuran besar muncul dari balik semak dan berjalan dengan percaya diri melintasi savana. Kemunculannya yang dramatis membuat kami segera berhenti untuk mengabadikan momen tersebut.

Sepanjang jalur trekking, kami juga mengamati tiga Kerbau Air Bubalus bubalis yang sedang merumput di dekat sungai kering, seekor Rusa Timor yang berdiri tenang di dekat pos ranger, serta seekor Komodo muda yang diberi tanda huruf “A” pada tubuhnya sebagai bagian dari program pemantauan.

Foto: Kerbau air di Taman Nasional Komodo.

Selain itu, beberapa spesies burung yang berhasil diamati diantaranya: Kuntul karang Egretta sacra, Burung madu matari Cinnyris solaris, Burung madu sriganti Cinnyris ornatus, Itik benjut Anas gibberifrons, Decu belang Saxicola caprata, Getalik-batu kelabu Parus cinereus, Perkutut Loreng Geopelia maugeus, Kancilan tenggara Pachycephala calliope, dan Elang-alap kelabu Tachyspiza hiogaster.

Beragam perjumpaan satwa liar tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman hayati yang didukung oleh ekosistem unik Taman Nasional Komodo.

Perjalanan kami akhirnya ditutup dengan kunjungan ke Pulau Kelor. Menikmati panorama pulau yang memukau, yang berpadu dengan hijau toska air laut jernih serta penampakan beberapa anak hiu karang menjadi penutup yang sempurna untuk sebuah petualangan satwa liar yang tak terlupakan di Taman Nasional Komodo.

Silahkan baca versi English di website https://floresnaturetour.com



Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Birding Guide: Antara Mimpi, Tantangan, dan Konsistensi

Pose bersama Carsten, seorang tamu burung yang saya temani selama 6D5N. Menjadi Birding Guide: Antara Mimpi, Tantangan, dan Konsistensi Menjadi seorang pemandu pengamatan burung birding guide  mungkin merupakan impian bagi sebagian orang. Namun, impian akan tetap menjadi mimpi jika tidak dibarengi dengan ketekunan, kesabaran, dan konsistensi untuk terus belajar. Perjalanan Perdana sebagai Seorang Birding Guide  Oktober 2023 menjadi perjalanan perdana saya sebagai seorang birder —sebuah pengalaman yang kemudian membuat saya jatuh cinta dan mulai menekuni dunia birding secara lebih serius, baik sebagai passion maupun profesi.  Saat itu, saya bersama Alvin Ebot dipercaya oleh Yovie Jehabut untuk mendampingi tamu dalam sebuah trip selama 5 hari 4 malam. Para tamu tersebut berasal dari Taiwan dan berjumlah tiga orang.  Yovie Jehabut sendiri adalah seorang birder asal Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang telah banyak berkeliling Indonesia untuk mendampingi tamu dala...

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca , Taman Nasional Komodo

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Jelajah Alam Liar Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo - Indonesia  Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya ...