Skip to main content

Cerita Birding #Part1

Burung-gereja erasia/Passer montanus (Foto: Avelino) Cerita Birding #Part1 Pagi ini saya bangun terlambat setelah mematikan alarm yang berdering pukul 06.00. Lalu melanjutkan mimpi di atas kasur. Sejam kemudian, saya bangun kembali dan melirik ponsel. Waktu menunjukkan pukul 07.15 dan saya pun bergegas merapikan tempat tidur. Menuju ke dapur untuk minum segelas air hangat. Kemudian mencuci muka, memanaskan mesin motor & menyiapkan perlengkapan birding (teropong & buku).  Tepat pukul 07.40, saya berangkat dari rumah dan langsung menuju ke Wae Ces. Setelah berkendara 5 menit dari rumah, saya menyadari dompet saya tertinggal. Saya pun memutuskan kembali ke rumah untuk mengambilnya sebagai antisipasi jika ada masalah dengan motor dalam perjalanan. Saya tiba di Wae Ces, tepatnya pos penjagaan BKSDA pukul 08.00. Lalu memarkirkan kendaraan di tempat yang aman. Dengan segera, saya mengambil binocular dari dalam tas untuk melihat burung yang sedang berkicau. Beberapa pengendara roda...

Pengalaman Tak Terduga Birdwatching dan Herping di Flores

Stork-billed Kingfisher 

Pengalaman Tak Terduga Birdwatching dan Herping di Flores


Cuaca Februari yang Tak Menentu di Labuan Bajo


Merencanakan perjalanan birding di bulan Februari selalu menjadi tantangan. Pada 22 Februari 2026, saya memandu perjalanan birdwatching pertama saya di tahun ini di Labuan Bajo, di mana cuaca sangat tidak menentu akibat pergerakan siklon di kawasan tersebut.

Pukul 05.00 pagi, Kasey dan Marley—klien kami—mengirim pesan WhatsApp. Hujan deras turun beberapa jam sebelumnya, dan mereka ingin memastikan apakah trip birding tetap berjalan pagi itu. Saya meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Cuaca Februari di Labuan Bajo memang dramatis, tetapi sering kali membawa kejutan yang tak terduga.

Kami berangkat pukul 05.30 pagi menuju lokasi birding di Puar Lolo, bagian dari lanskap indah Mbeliling di dekat Labuan Bajo. Gerimis dan kabut tebal menemani perjalanan kami selama hampir satu jam.

Sesampainya di lokasi, suara khas Wallacean Drongo Dicrurus densus dan panggilan nyaring Helmeted Friarbird Philemon buceroides menyambut kami di udara pagi yang berkabut. Awal yang sangat menjanjikan.

Kami turun dari mobil saat hujan sempat berhenti sejenak. Sayangnya, kabut begitu tebal hingga jarak pandang hampir nol. Kami menunggu selama satu jam dengan harapan cuaca membaik. Namun, hujan deras kembali turun bahkan lebih cepat dari sebelumnya.

Sempat terpikir untuk menyerah dan kembali ke Labuan Bajo karena kami tidak bisa melihat apa pun. Namun, birdwatching sering kali menghargai kesabaran. Jadi, alih-alih kembali, kami memutuskan berpindah ke lokasi lain di dalam lanskap alam Mbeliling.

Setibanya di lokasi berikutnya, kami disambut oleh suara melengking Crested Heleia Heleia dohertyi Meski gerimis masih turun, suara itu kembali membangkitkan semangat kami. Dengan mengenakan jas hujan, kami terus menyisir hutan, berharap ada kejutan lain yang menanti.

Kemunculan Russet-capped Tesia Tesia everetti menarik perhatian saya setelah saya memutar suaranya melalui speaker. Ada tiga individu yang melompat-lompat di antara daun paku Polypodiophyta. Setelah itu, suasana kembali sunyi seperti biasanya, sehingga kami memutuskan berpindah lokasi lagi.

Tidak jauh dari lokasi kedua, seekor Golden-rumped Flowerpecker Dicaeum annae terlihat bertengger tenang di cabang Acacia auriculiformis di pinggir jalan. Kemudian, Flame-breasted Sunbird Cinnyris solaris dan Ornate Sunbird Cynniris ornatus muncul di dekat kami. Setelah mengamati beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya tanpa berhenti di tengah jalan.

Kabut masih menyelimuti pegunungan saat kami tiba di Pota Wangka, lokasi birding berikutnya, sekitar pukul 11.00 siang. Beberapa menit setelah tiba, empat Flores Crow Corvus florensis mendekat ke arah suara playback, diikuti oleh seekor Variable Goshawk Tachyspiza hiogaster yang bertengger tidak jauh dari situ.

Pertemuan tak terduga terjadi ketika seekor Flores Hawk-Eagle Nisaetus floris melayang di udara selama sekitar 10 menit sebelum akhirnya menghilang ke dalam awan. Luar biasa!

Sesi birding pagi kami berakhir dengan hasil yang sangat memuaskan sebelum waktu makan siang. Beberapa highlight di antaranya lebih dari sepuluh Blue-tailed Bee-eater, seekor Oriental Honey-buzzard yang melayang di atas kanopi hutan, sepasang Wallacean Drongo, seekor Kamchatka Leaf Warbler, dan empat Flores Minivet yang aktif bergerak di puncak pepohonan.

Kami kembali ke Labuan Bajo untuk makan siang pukul 12.30 siang, sekaligus beristirahat sejenak sebelum melanjutkan eksplorasi di sore hari.

Sekitar pukul 15.30, kami meninggalkan hotel menuju lokasi birding di area Gorontalo, bagian selatan Labuan Bajo. Bahkan di sepanjang jalan, aktivitas birding sudah terasa menarik.

Seekor Stork-billed Kingfisher Pelargopsis capensis terlihat bertengger tenang di cabang mangrove, memberikan kesempatan pengamatan yang sangat baik. Tidak lama kemudian, sepasang Collared Kingfisher Todiramphus chloris muncul di dekatnya, memberi peluang observasi dan fotografi sebelum kami melanjutkan perjalanan ke area persawahan.

Habitat persawahan ternyata sangat produktif. Kami mencatat empat Wandering Whistling Duck, empat Zebra Finch, seekor White-breasted Waterhen, dan dua White-browed Crake. Beberapa spesies lain juga terlihat, termasuk Medium Egret, Zitting Cisticola, Lesser Coucal, dua Javan Pond-Heron, dan seekor Grey Heron.

Saat cahaya keemasan sore perlahan memudar, kami mengakhiri sesi birding yang menyenangkan dan kembali ke hotel.


Yellow Lesser Sunda White-lipped Pitviper

Herping Malam di Gua Batu Cermin


Setelah makan malam pukul 19.30, petualangan kami berlanjut dengan ekspedisi malam ke Gua Batu Cermin, yang hanya berjarak sekitar 10 menit dari restoran tempat kami makan.

Gua Batu Cermin merupakan salah satu destinasi wisata terkenal di Labuan Bajo, dikenal dengan formasi batu kapur yang mengesankan, termasuk stalaktit dan stalagmit yang indah. Dikelilingi hutan bambu dan medan berbatu, area ini juga menjadi habitat yang sangat baik bagi berbagai satwa nokturnal.

Setibanya di lokasi, kami disambut oleh pemandu lokal yang menemani perjalanan kami. Tidak jauh dari titik awal, kami menemukan dua Trimeresurus insularis—satu berwarna hijau dan satu kuning—yang sedang beristirahat di cabang pohon Schoutenia ovata sambil menunggu mangsa.

Keduanya berukuran cukup besar dan menjadi pertemuan yang sangat menarik. Kami menghabiskan hampir 30 menit untuk mengamati dan memotret sebelum melanjutkan perjalanan herping.

Kami melanjutkan penelusuran di sisi kiri jalur utama, mencoba menemukan satwa lain di hutan bambu. Tidak lama kemudian, kami menemukan seekor Black-naped Monarch jantan yang sedang beristirahat di cabang bambu.

Seiring malam semakin larut dan udara semakin dingin, kami memutuskan untuk mengakhiri sesi herping setelah berhasil mencatat beberapa spesies, termasuk Whip Spider, Tenggara (Rusty-breasted) Whistler, Black-naped Oriole, Common Tree Frog, dan Laevigatus Bent-toed Gecko.

Read the full trip report in English on our website  https://floresnaturetour.com

Comments

Popular posts from this blog

Mencari Ular Biru & Piton Timor di Habitat Alaminya

Foto: Ular biru/Trimeresurus insularis di Taman Nasional Komodo. Mencari Ular Biru & Piton Timor di Habitat Alaminya Gambaran Umum Taman Nasional Komodo merupakan salah satu destinasi satwa liar paling ikonik di Indonesia sekaligus Situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di Kepulauan Sunda Kecil. Meskipun kawasan ini terkenal sebagai habitat dan benteng perlindungan Komodo  Varanus komodoensis , taman nasional ini juga merupakan hotspot keanekaragaman hayati bagi reptil dan amfibi, menjadikannya salah satu destinasi herping terbaik di Indonesia. Hutan musim yang kering, savana yang luas, habitat pesisir, serta pulau-pulau berbukit di Taman Nasional Komodo menyediakan kondisi ideal bagi beragam satwa liar, termasuk sejumlah spesies endemik Kepulauan Sunda Kecil. Reptil yang paling dicari oleh para herper adalah Ular Biru Trimeresurus insularis atau  Ular Hijau Ekor Merah  yang menakjubkan serta Sanca Timor   Malayopython timoriensis yang cukup sulit ditemu...

Menjadi Birding Guide: Antara Mimpi, Tantangan, dan Konsistensi

Pose bersama Carsten, seorang tamu burung yang saya temani selama 6D5N. Menjadi Birding Guide: Antara Mimpi, Tantangan, dan Konsistensi Menjadi seorang pemandu pengamatan burung birding guide  mungkin merupakan impian bagi sebagian orang. Namun, impian akan tetap menjadi mimpi jika tidak dibarengi dengan ketekunan, kesabaran, dan konsistensi untuk terus belajar. Perjalanan Perdana sebagai Seorang Birding Guide  Oktober 2023 menjadi perjalanan perdana saya sebagai seorang birder —sebuah pengalaman yang kemudian membuat saya jatuh cinta dan mulai menekuni dunia birding secara lebih serius, baik sebagai passion maupun profesi.  Saat itu, saya bersama Alvin Ebot dipercaya oleh Yovie Jehabut untuk mendampingi tamu dalam sebuah trip selama 5 hari 4 malam. Para tamu tersebut berasal dari Taiwan dan berjumlah tiga orang.  Yovie Jehabut sendiri adalah seorang birder asal Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang telah banyak berkeliling Indonesia untuk mendampingi tamu dala...

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca , Taman Nasional Komodo

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Jelajah Alam Liar Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo - Indonesia  Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya ...