Skip to main content

Posts

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Jelajah Alam Liar Pulau Rinca

Foto: pemandangan ke sisi selatan dari ketinggian 122 mdpl. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing tersapu angin. Sebagian orang terlihat sedang bersantai di beranda rumah. Menunggu para nelayan pulang melaut pun orang-orang yang datang dari pulau seberang. Membawa hasil tangkapannya semalam. Sementara yang lainnya sibuk mengambil ikan-ikan di perahu yang baru saja tiba. Pagi yang cukup cerah di kampung Lenteng. Sebuah kampung nelayan di bagian selatan Labuan Bajo yang menjadi incaran para investor.  Kampung Lenteng dulunya dikenal karena aksesnya yang terbatas. Kondisi jalannya yang rusak parah membuat orang akan berpikir berkali-kali jika ingin bertamasya ke sana. Tetapi kini kampung itu telah menjelma menjadi aset yang terbilang mahal. Sebab, banyak investor yang meliriknya setelah semuanya 'disulap' pada masa pemerintahan Jokowi. Masihkah warga lokal dapat mengakses pantainya di kemudian hari? Ataukah hanya menjadi seorang asing di tanahnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan it...

Komodo Herping & Birding Report

Photo: Blue Lesser Sunda White-lipped Pitviper  Overview   Komodo National Park is not only popular because of Komodo Dragon as the only one living lizard in the world. Beside that, the island has at least 14 spesies of snakes which can be seen on Rinca, Padar and Komodo island and also more than 100 spesies of birds included Yellow-creasted Cockatoo and Flores Hawk Eagle which is categorised as critical endemic. Here is my trip report inSeptember, 09-11th 2024 during my herping and birding trip. Day 01: September 09th 2024 The weather was quite nice after the rain in the days before in Labuan Bajo. Unusually, there were only a few people in front of the arrival gate and a few airport officials in full uniform. On the screen, the flight route from Denpasar to Labuan Bajo was still on schedule before a melodious voice informed me that flight number 6331 had landed.  In front of the gate of Komodo Airport I waited for Alex & Sheilla - the guest who will be accompanied b...

Waerebo Dan Cerita Yang Tak Pernah Berkesudahan

Foto: Kampung Adat Waerebo  Langit pagi kota Labuan Bajo sangat cerah. Situasi di bandara Komodo sedang sepi. Tidak seperti biasanya. Mungkin sekarang bukan musim liburan. Saya tiba di sana lebih awal untuk menjemput tamu yang akan berkunjung ke Waerebo. Mereka memilih tur 2h/1m menuju ke sana. Menurut informasinya, tamu akan tiba pukul 09.20 wita menggunakan pesawat Air Asia. Suara anggun nan lembut seorang perempuan terdengar dari pengeras suara. Menginformasikan bahwa pesawat dengan tujuan Bali - Labuan Bajo sudah mendarat. Di depan pintu kedatangan, saya menunggu mereka dengan sepotong kertas F4 yang bertuliskan " Selamat Datang Di Labuan Bajo Dr. Satria CS". Setelah Pandemi, Labuan Bajo yang adalah kota kecil di bagian barat pulau Flores ini banyak dikunjungi oleh wisatawan yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk melihat hewan purba Komodo yang masih hidup sampai sekarang. Selain itu, keindahan pantainya yang berwarna merah muda, barisan perbukitan yang menyerupai ...

Mistisisme Istana Ular Dan Malayopython Reticulatus

Foto: Sanca Kembang/Malayopython reticulatus  Pohon-pohon liar beserta akarnya tumbuh menjalar menghiasi pintu masuk gua. Tiga ekor Trimeresurus insularis sedari tadi menanti kedatangan kami, seperti satpam yang sedang berjaga-jaga. Satunya berada tepat di atas mulut gua dan dua lainnya berada di bagian kiri pintu masuk. Cahaya mentari hanya sampai di depan mulut gua. Sisanya gelap gulita. Air yang tercampur kotoran kelelawar dan berlumpur terus mengalir dari dalam. Di depan pintu masuk, Bapak Hanes Agat - salah seorang yang dituakan di kampung Weto - mengambil posisi jongkok sambil menggenggam sebutir telur. Meminta kami berempat untuk maju selangkah. Lalu ia merapalkan doa-doanya. Memohon izin kepada penghuni istana ular. Kemudian meletakkan telur itu di sebatang kayu yang ditancapkan di depan mulut gua. Istana ular tidak seperti gua-gua lainnya yang pernah saya datangi. Auranya berbeda. Seperti ada sesuatu yang tak dapat dijangkau dan dilihat. Setahun yang lalu, Sten - pemandu l...

Demi Si Kuning Trimeresurus Insularis

Foto: Yellow Trimeresurus insularis (James Adam) Suara tokek dan Celepuk Maluku mengiringi kegiatan herping kami pada malam itu. Kami masuk melalui sebuah jalan kecil yang biasa dilewati oleh orang-orang yang keluar masuk hutan sebagai jalan masuk. Cahaya senter yang digunakan seperti cahaya lampu-lampu di kelab malam. Bergerak ke sana ke mari menerangi setiap sisi. Memastikan tidak ada yang terlewatkan. Seminggu sebelumnya, Agus menelpon saya. Meminta kesediaan saya untuk menemani beliau bersama kedua orang tamu - Jo dan pacarnya - untuk herping. Jo sendiri pernah ke Labuan Bajo bersama rekan-rekannya untuk kegiatan yang sama tahun 2018 silam dan ditemani oleh Agus. Dan, ini adalah kunjungan keduanya Jo. Tetapi kali ini, target utamanya adalah si kuning Trimeresurus insularis .  Kami berangkat dari hotel menuju ke lokasi herping menggunakan sepeda motor yang ditempuh dengan waktu 10 menit. Melewati jalan yang belum beraspal sepenuhnya dengan debu yang mengepul ke udara ketika kami...

Komodo Birding Report

Rusty-breasted Whistler/ Pachycephala fulvotincta Day 01: The day was so hot. I had to wait another hour until they arrived at the port. Last month, Yovie Jehabut (jagarimba.id) contacted me to join him in birding tour to Komodo for 2d/1n. I was so happy cause' it was my first experience went with him for birding in this island. Yovie asked me to wait them at the port. After they arrived, we went to the boat. He introduced me to Simon and Susan. They were from the United States and were with him for 11 days. They started their birding tour from Timor Island then Flores (Bajawa, Ruteng, Labuan Bajo & Komodo). Alvin Ebot as the driver who pick them up in Bajawa.  He also liked birding and was really passionate about it. It wasn't his first time to join a birding tour as he was with Yovie for several times. He also joined the trip to Komodo island. We used Latansa as our cruise boat to Komodo. The boat had 4 cabins with private bathroom. We used 3 of them. There were 5 crew on...

Cerita Birding #Part5

Kipasan flores/Rhipidura diluta   Saya tersadar pukul 05.25 dari tidur panjang semalam. Melirik layar ponsel dan kemudian menyimpannya kembali. Sempat berpikir untuk beranjak dari kasur. Namun, godaannya ditambah dinginnya udara kota Ruteng membuat saya kembali ke sana. Saya pun tersadar kembali setelah mendengar pintu terbuka dan mendengar suara riuh dari orang-orang rumah yang hendak berangkat ke sekolah. Sempat terlintas dalam benak untuk menyudahi saja kegiatan birding di hari kelima ini, tetapi setelah dipertimbangkan, saya mengurungkan niat itu karena apa yang telah menjadi komitmen mesti dituntaskan. Saya berusaha melawannya dan segera bangkit dari tempat tidur. Lalu melakukan pekerjaan seperti biasanya.  Saya meraih helm dan bergegas meninggalkan rumah pukul 07.02 menuju ke Mbeang Ledas. Pemandangan yang sama selalu tersaji di pagi hari yang indah. Terutama ketika melihat mahasiswa cantik yang bergegas menuju kampus. Anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekola...

Cerita Birding #Part4

Seriwang nusa-tenggara/Terpsiphone floris (jantan) Semalam saya tidak menyetel alarm karena mencoba untuk tidak dibangunkan olehnya. Alasannya sederhana yaitu melatih kebiasaan bangun pagi. Hasilnya, saya tersadar dan sempat bangun pukul 05.09. Setelah itu saya kembali meraih selimut. Melanjutkan mimpi di atas kasur hingga tersadar kembali pukul 06.30. Dengan terburu-buru, saya beranjak dari sana. Melakukan rutinitas seperti biasanya sebelum menuju ke hutan untuk melakukan birding di hari yang keempat. Saya berangkat dari rumah menuju ke Woang pukul 06.40 untuk menjemput kerabat saya, Avelino. Sepanjang jalan, banyak anak sekolah dan pegawai kantoran yang saya jumpai. Juga beberapa petugas kebersihan di sekitar kantor bupati. Maklum, hari ini adalah hari senin. Satu-dua toko pun sudah mulai dibuka. Saya dan Avellino berangkat dari Woang menuju ke Golo Lusang pukul 07.15. Sempat singgah sebentar di kios depan Agape untuk membeli sebungkus rokok Arrow. Dari sana, kami pun melajukan kend...

Cerita Birding #Part3

Burung-madu matari/Cinnyris solaris (foto: Alvin Ebot) Suara alarm pada pukul 05.30 membangunkan saya dari mimpi yang tak jelas. Saya pun beranjak dari tempat tidur karena hari ini adalah hari ketiga saya melakukan birding . Membuka sedikit gorden kemudian kembali lagi ke tempat tidur setelah mengetahui kondisi di luar masih gelap. Lalu saya mengambil handphone dan menyetel ulang alarm pada pukul 06.30. Saya kembali ke dalam selimut sambil meringkuk kedinginan dan berusaha untuk tidur kembali, tetapi kantuk tak kunjung datang karena pertanyaan yang berkecamuk di kepala. Mengapa harus bangun pagi, Afin? Bukankah kamu sudah mengetahui sebagain dari lokasi birding dan spesies apa yang akan kamu amati di sana? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk benar-benar beranjak dari tempat tidur. Merapikannya & melakukan sedikit senam pagi. Sempat terbersit dalam benak untuk pergi misa pagi saja, tetapi stlh dipikir-pikir, ya sudahlah ke hutan saja. Apalagi mas...

Cerita Birding #Part2

Sepah kerdil/Perycrocotus lansbergei (Foto: Alvin Ebot) Birding di hari ke dua ini cukup mengesankan setelah berusaha melawan rasa kantuk karena pengaruh racing yang diteguk semalam (sebuah brand minuman lokal yang dikenal sebagai arak atau sopi dalam bahasa setempat). Saya bangun pukul 05.30 setelah alarm berdering tiga kali. Menepis rasa ngantuk untuk segera beranjak dari tempat tidur. Melipat selimut dan melakukan sedikit senam pagi. Sempat punya niat untk tidak pamit dengan pemilik rumah, tapi setelah dipikir-pikir tidak baik juga klau tidak pamit. Saya pun membangunkan Avelino.  Saya berangkat dari rumahnya pukul 05.45 dan langsung menuju ke Golo Lusang. Beberapa orang saya jumpai sedang berjalan-jalan santai. Ada juga yang sedang membersihkan pekarangan rumah dan memungut sampah plastik yang ada di bahu jalan. Saya tiba di sana Pukul 06.00. Kabut masih mencium pucuk-pucuk pepohonan dengan gemilang fajar yang indah di balik puncak Poco Gurung. Belum ada kendaraan yang melinta...

Menelusuri Mbeang Ledas Di Bawah Cahaya Rembulan

Foto: Signature spider/Argiope anasuja Rembulan mulai menampakkan dirinya di arah timur. Suhu udara cukup dingin. Dalam kondisi yang belum fit sepenuhnya, saya berusaha untuk mengabaikannya. Saya menunggu Arjun dan rekannya di Karot untuk pergi ke Mbeang Ledas. Lokasi yang telah disepakati bersama untuk herping. Sehari sebelumnya, mas Agus Agus Elang menelepon dan meminta kesediaan saya untuk temani Arjun herping di Ruteng. Saya pun menyetujuinya. Arjun adalah teman dari mas Agus, seorang mahasiswa herpetology yang saat ini kuliah di UK. Ketika Arjun tiba di Ruteng, ia langsung mengontak saya dan mengirimkan lokasi tempat ia menginap, Sunrise homestay. Saya kemudian menuju ke lokasi tersebut. Setibanya di Sunrise homestay, Arjun menyambut saya dengan senyum bahagia. Ia memperkenalkan rekan seperjalanannya, Clara. Juga Marc & Loi. Saya pun mendiskusikan aktivitas yang akan dilakukan di sana. Mulai dari kondisi trek, waktu yang dihabiskan untuk herping, pakaian yang mesti digunakan...

Travel Story To Timor Island

  Photo: ferry Lakaan in Bolok harbour. Every journey has a story and every encounter has memories. ~~~ The sea stretches as far as the eye can see. While the sun blushes its rays. At the harbor, people were crowded. Not only people coming to pick up and drop off passengers and relatives, but also vendors selling their wares.  At the entrance gate, one by one the passengers were allowed to enter the ship. Looking for empty places that could be occupied. Two-wheeled and four-wheeled vehicles crowded the first deck. Delicious and unpleasant smells did not escape the sense of smell. Meanwhile, on deck two, people were already filling the small hallways. This left little space for people to pass freely. The same was true on deck three.  Some were traveling for the first time, but there were also those who had traveled many times. "This trip doesn't take much time to reach the city of Coral. This ferry is faster than the others. It only takes about 18 hours to arrive at the de...

Kampung Kawa dan Ritual Adat yang Masih Melekat

  Foto: kampung adat Kawa . Perjalanan layaknya merayakan perjumpaan antara imajinasi & realitas.  ~~~ Jalan tanah dan berbatu sejauh 1 km mengurangi laju kendaraan roda empat yang kami tumpangi. Hamparan padang rumput berwarna kuning-kecoklatan membentang luas. Warna bongkahan-bongkahan batu dari aktivitas gunung berapi yang telah meletus berjuta-juta tahun yang lalu juga pohon-pohon gamal ( Gliricidia sepium ) yang nampak kering tanpa dedaunan adalah daya tarik lain yang ditawarkan selain keindahan kampung adatnya. Kami memutuskan berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang dituju. Debu terus mengepul ke udara seiring kaki melangkah. Menempel di sepatu dan sendal yang kami pakai.  Sengatan sinar matahari dengan suhu 30° C pun tak dapat dihindarkan. Membakar kulit yang berlindung di balik pakaian yang kami kenakan. Bermandikan keringat. Sesekali, angin muncul seperti setan yang bergentayangan. Ketertarikan akan keindahan kampung Kawa terus memberi sema...